Showing posts with label sandiaga uno. Show all posts
Showing posts with label sandiaga uno. Show all posts

Tuesday, September 23, 2008

Bagaimana Cara Menjadi Pengusaha ?


By Sandiaga S Uno


Akhir-akhir ini kecenderungan untuk menjadi pengusaha terasa meningkat ditandai dengan adanya berbagai pelatihan dan munculnya berbagai lembaga yang menyediakan diri untuk mendorong dan melatih seseorang menjadi pengusaha.

Hal ini merupakan perkembangan yang sangat menggembirakan. Semakin banyak pengusaha, maka semakin banyak lapangan kerja yang tersedia dan semakin banyak pengangguran yang bisa diserap. Saat ini pengangguran di Indonesia telah mencapai angka 11 juta. Jika kita asumsikan setiap usaha merekrut setidaknya 2 pegawai, maka jika tumbuh 1 juta pengusaha, akan tersedia 2 juta lapangan kerja. Dengan adanya pengusaha, pemerintah akan terbantu untuk menyediakan lapangan kerja. Kita tahu bahwa pemerintah juga memiliki keterbatasan. Munculnya pengusaha akan sangat membantu pemerintah.

Dengan tersedianya lapangan kerja, maka daya beli masyarakat akan meningkat dan pada akhirnya mengurangi angka kemiskinan. Saat ini kita masih memiliki 40 juta rakyat miskin, sebuah jumlah yang sangat besar. Jika 1 pekerja menghidupi 1 istri dan 1 anak, maka setidaknya 3 juta orang tertolong dengan hadirnya 1 pengusaha. Oleh karena itu, jumlah pengusaha harus ditingkatkan lagi agar semakin banyak orang tertolong.

Pada sisi lain, pengusaha juga merupakan penyumbang pajak bagi pemerintah. Sebagaimana diketahui, APBN kita 70 % lebih dibiayai oleh pajak. Jika jumlah pengusaha semakin banyak maka, jumlah penerimaan negara akan makin meningkat dan lebih banyak yang bisa dilakukan pemerintah untuk masyarakatnya.

Bagi pengusaha sendiri, seperti yang saya rasakan, lebih banyak yang bisa saya raih daripada saat dulu masih menjadi karyawan. Tulisan ini akan membantu para pembaca yang ingin mengetahui bagaimana caranya menjadi pengusaha.

Pertama yang harus dilakukan adalah mengatasi rasa takut menjadi pengusaha. Umumnya orang enggan menjadi pengusaha karena takut akan bankrut, takut tertipu dan lain-lain. Intinya takut akan resiko yang akan dihadapi. Padahal sebenarnya, apapun yang kita lakukan pada dasarnya beresiko. Sebagai contoh: kita menyeberang jalan, tentu ada resiko tertabrak. Sebagai orang yang dikaruniai akal, tentu kita tidak akan menyeberang sembarangan. Begitu pula dengan menjadi pengusaha, resiko bisa kita minimalkan dengan manajemen yang baik. Jika kita tidak sanggup menanggung resiko besar, kita bisa memilih resiko yang lebih kecil. Dan memang lebih baik memulai dari sesuatu yang kecil

Yang kedua adalah mengenai modal. Banyak orang batal menjadi pengusaha karena tidak memiliki modal. Sesungguhnya modal itu penting tapi bukan yang utama. Yang utama adalah ide. Uang berapapun tidak akan menghasilkan keuntungan jika tidak memiliki ide. Saya bisa memberikan kepada Anda uang 1 milyar hari ini, tetapi jika Anda tidak punya ide usaha, maka uang itu akan habis pelan atau cepat. Sebaliknya jika seseorang memiliki ide, maka uang akan datang dengan sendirinya. Banyak pengusaha yang memulai tanpa modal sama-sekali, dan pada akhirnya perbankan berebut menawarkan modal kepadanya.

Untuk memulai usaha, sekali lagi bukan modal uang yang dibutuhkan. Pilihlah usaha yang tidak membutuhkan uang untuk memulainya. Kita bisa belajar dari para pedagang yang menjual cash tetapi membeli dengan bayar di belakang. Jadi tidak ada modal uang. Jika memang membutuhkan uang, sementara Anda tidak memiliki uang, pakailah uang orang lain. Cukup sederhana. Masalahnya tinggal bagaimana Anda menggunakan ‘modal’ yang diberikan Tuhan, tubuh dan akal Anda untuk memakai uang orang lain.

Modal yang kedua adalah keberanian. Mulai dari sekarang, beranikan diri Anda untuk bermimpi. Mungkin ini agak aneh, tetapi dunia sudah membuktikan bahwa banyak penemuan ilmiah berdasarkan mimpi dan khayalan. Mobil-mobil sekarang ini berasal dari khayalan masa kecil. Ketika mimpi dan khayalan terwujud, kesuksesan sudah menanti di depan mata.

Selanjutnya, beranilah berbeda. Ditengah pasar yang kompetitif, menjadi beda adalah hal yang penting. Jika Anda membuat sesuatu yang sama dengan kompetitor Anda, maka produk atau jasa Anda peluangnya berbagi dengan kompetitor Anda. Sesuatu yang berbeda adalah nilai tambah. Dengan berbeda, keuntungan akan lebih besar. Lihatlah sekeliling, apa yang menjadi masalah atau kebutuhan di sekitar Anda. Dengan demikian Anda akan memahami pasar sebelum meluncurkan produk atau jasa.

Jika Anda sulit menemukan sebuah bisnis yang benar-benar baru, tidak perlu kecil hati karena Anda bisa memilih bisnis yang masih memiliki prospek pertumbuhan di masa mendatang. Salah satunya adalah bisnis di sektor telekomunikasi. Anda tidak perlu berpikir untuk mendirikan operator baru karena memang bukan itu ‘mainan’ yang tepat untuk pemula, namun lihatlah rantai bisnis telekomunikasi dari hulu sampai hilir. Lihat juga bisnis yang terkait dengan sektor telekomunikasi ini, karena sesungguhnya mata rantai bisnis ini sangat panjang.

Selanjutnya siapkan keberanian untuk memulai. Makin cepat akan makin baik. Ibarat antrian, yang lebih dulu akan mendapatkan kesempatan lebih dulu. Buanglah keraguan Anda, karena jika Anda selalu ragu-ragu, maka Anda tidak akan pernah memulai, dan Anda tidak tahu apakah Anda akan berhasil atau gagal. Jika tidak pernah memulai, maka Anda tidak bisa belajar bagaimana menghindari kegagalan dan Anda juga sekaligus tidak pernah mengalami kesuksesan. Anda hanya akan terus berpikir, tanpa pernah mencoba untuk melakukan yang Anda pikirkan.

Seorang senior kami di HIPMI, Saudara Purdie E. Chandra yang memiliki Entrepreneur College memiliki sebuah metode memulai yang sederhana. Kita tidak usah berpikir macam-macam, kita lakukan saja semudah kita buang air di WC. Kita tidak pernah memikirkan bagaimana cara memasuki WC, kita juga tidak pernah memikirkan bagaimana cara buang air, apakah dengan ritme atau tidak. Begitu saja terjadi dan selesai. Kita sukses buang air. Kita tidak pernah memikirkan apakah kita akan gagal dalam buang air, kan? Jika kita gagal buang air, kita tinggal makan pepaya. Gitu aja koq repot?

Kalaupun ditengah perjalanan ada kegagalan, itu merupakan hal yang sangat biasa. Dengan demikian kita memiliki pengalaman, anggap saja hal itu merupakan biaya sekolah. Lebih baik kita gagal di awal daripada gagal di akhir. Pendiri dan pemilik KFC, telah gagal 19 kali untuk meyakinkan bahwa ayam gorengnya enak dan laku sebelum akhirnya menemui jalan suksesnya. Begitu juga Puspo Wardoyo gagal di tempat asalnya dan memulai usaha Ayam Bakar Wong Solo di Medan.

Jika kita belum memiliki pengalaman saat memulai usaha, merupakan sesuatu yang wajar. Pengalaman akan didapatkan seiring perjalanan usaha. Tidak ada seseorang yang tiba-tiba ahli dalam bidang apapun, semuanya melalui proses belajar. Sayangnya menjadi pengusaha tidak ada sekolahnya, sehingga trial and error menjadi salah satu metode yang paling sering digunakan. Jika Anda lulus maka kesuksesan yang Anda raih, jika belum maka kesuksesan Anda akan tertunda. Kesuksesan seorang pengusaha ditentukan oleh berapa kali ia lebih banyak bangun dari kegagalan.

Jika sampai disini, masih ada keraguan untuk memulai usaha, saya khawatir Anda belum memiliki mindset seorang pengusaha. Mindset adalah pola pikir. Seorang pengusaha melihat kendala sebagai peluang. Ketika orang-orang perkotaan memiliki budaya malas dan memiliki waktu terbatas untuk mencuci, seorang pengusaha mendirikan usaha laundry. Dengan mindset ini, seorang pengusaha bisa struggle dan survive. Mulai dari sekarang rubahlah mindset Anda. Jika mindset ini sudah terbangun, maka Anda akan memiliki banyak akal, berpikir tidak linier dan mampu mengatasi segala masalah.

Ada pameo, lebih baik menjadi kepala semut daripada ekor gajah. Dengan menjadi pengusaha, kita menjadi kepala, bukan ekor. Apakah kemudian badan kita besar atau kecil, tentu tergantung bagaimana kita mengelola usaha kita. Dengan makin majunya ilmu managemen, makin mudah mengelola manajemen perusahaan. Jadi beranikan diri Anda menjadi kepala.



Tuesday, September 09, 2008

Kebangkitan Hidup Sandiaga Uno


Manis-pahit dunia kerja dikecap Sandiaga Uno pada usia muda. Mengawali karier sebagai karyawan, meraih puncak karier dalam waktu singkat, hingga diberhentikan dari pekerjaan nan mapan, mencipta arus balik hidup Sandiaga untuk menjadi pengusaha. Tahun 2008 ia dinobatkan menjadi ”Entrepreneur of The Year” dari Enterprise Asia untuk predikat pengusaha terbaik.

Pencapaian itu adalah buah dari pergulatan panjang. Namun, pria yang akrab disapa Sandi itu menyebut dirinya sebagai ”pengusaha kecelakaan”. Itu karena kiprahnya di dunia usaha dimulai tatkala kondisi karier dan keuangannya sedang terpuruk pada 1998.

Pria lulusan Wichita State University, Amerika Serikat, dengan predikat summa cumlaude itu mengawali karier sebagai karyawan Bank Summa pada 1990. Tahun 1991 ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di George Washington University, Amerika Serikat. Ia lulus dengan indeks prestasi kumulatif 4,00.

Kariernya terus melesat. Pada tahun 1994 ia bergabung dengan MP Holding Limited Group sebagai investment manager. Pada 1995 ia hijrah ke NTI Resources Ltd di Kanada dan menjabat Executive Vice President NTI Resources Ltd dengan penghasilan 8.000 dollar AS per bulan.

Namun, kariernya itu tak berlangsung lama. Krisis moneter sejak akhir 1997 menyebabkan perusahaan tempatnya bekerja bangkrut. Semua tabungan hasil jerih payahnya yang diinvestasikan ke pasar modal juga turut kandas akibat ambruknya bursa saham global.

Kembali ke Indonesia

Sandi kembali ke Indonesia dan menumpang di rumah orangtuanya, Henk Uno dan Mien R Uno, karena tidak mampu membayar sewa rumah. Situasi sulit ini sempat membuat ayah dua anak itu hampir putus asa.

Pergulatan batin dalam keterpurukan membuat Sandi berkeyakinan, menjadi karyawan membuat ia sulit memiliki kemandirian secara finansial. Pemikiran itu melandasi langkahnya untuk ”banting setir” dan menapaki dunia bisnis.

”Sebagai karyawan perusahaan, banyak hal dapat terjadi di luar kontrol kita. Apabila keadaan ekonomi memburuk, ada kemungkinan kita di-PHK (pemutusan hubungan kerja) meskipun kita memiliki prestasi di perusahaan itu,” tutur bungsu dari dua bersaudara itu.

Pada tahun 1997 ia mendirikan perusahaan penasihat keuangan, PT Recapital Advisors bersama teman SMA-nya, Rosan Perkasa Roeslani. Ia mempelajari seluk-beluk bisnis, antara lain dari William Soeryadjaya.

Pada 1998 Sandi dan Edwin Soeryadjaya, putra William, mendirikan perusahaan investasi PT Saratoga Investama Sedaya. Bidang usaha yang digarap meliputi pertambangan, telekomunikasi, dan produk kehutanan.

Berbekal jejaring relasi dengan perusahaan serta lembaga keuangan dalam dan luar negeri, Sandi menjalankan bisnis itu. Usahanya menghimpun modal investor untuk mengakuisisi perusahaan-perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan. Kinerja perusahaan yang krisis itu lantas dibenahi dan dikembangkan. Setelah pulih, aset perusahaan dijual dengan nilai tinggi.

Ada 12 perusahaan yang sudah diambil alih. Beberapa perusahaan telah dijual, antara lain PT Dipasena Citra Darmaja, PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN), dan PT Astra Microtronics.

Pada tahun 2007 Sandi dinobatkan menjadi 122 orang terkaya di Indonesia versi majalah Asia Globe dengan total aset perusahaan mencapai 80 juta dollar AS. Pada 2008 ia dinobatkan menjadi orang terkaya ke-63 di Indonesia dengan total aset 245 juta dollar AS.

Sandi mengibaratkan dunia usaha seperti naik sepeda, yakni kerap jatuh-bangun. Hanya keberanian, optimisme dalam memandang masa depan yang membuka jalan untuk mendulang kesuksesan.

Baginya, jejaring relasi hanya menyumbang 30 persen dari kesuksesan. Unsur kesuksesan selebihnya bersumber dari kerja keras dan menjaga kepercayaan. Dengan semangat itu, usaha yang digelutinya kini memiliki total karyawan 10.000 orang.

”Hidup harus punya target. Tanpa target, pencapaian akan sulit,” tutur pria yang menjabat Ketua Dewan Pembina Himpunan Pengusaha Muda Indonesia itu.

Dorong UMKM

Di bidang keorganisasian, pria penggemar olahraga basket ini pernah menjabat Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP Hipmi) periode 2005-2008. Selama masa kepemimpinannya, jumlah pengusaha yang tergabung di Hipmi meningkat dari 25.000 orang menjadi 35.000 orang.

Di mata koleganya, Sandi merupakan sosok inspirator bagi pengusaha muda yang minim pengalaman. Ketua Umum BPP Hipmi 2008-2011 Erwin Aksa menuturkan, Sandi gigih menanamkan prinsip bahwa pengusaha harus punya mimpi dan bekerja sepenuh hati.

Sandi juga sibuk sebagai Ketua Komite Tetap Bidang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah di Kamar Dagang dan Industri Indonesia. Ia mempunyai obsesi meningkatkan jumlah pengusaha Indonesia dari 0,18 persen menjadi 5 persen dari total penduduk pada 2025.

Menurut ia, ada tiga masalah besar yang dihadapi pelaku UMKM saat ini, yaitu kualitas sumber daya manusia (SDM), akses pasar, dan pendanaan. Keprihatinan terbesarnya adalah nasib pengusaha kaki lima yang sering mengalami penggusuran hingga sulit meningkatkan kualitas SDM.

UMKM selama ini dibiarkan tumbuh sendiri oleh pemerintah tanpa kebijakan yang berpihak. Namun, sektor itu mampu bertahan pada saat krisis dan menopang perekonomian negara selama sekitar 10 tahun. Belakangan, sektor UMKM menjadi pilar penciptaan lapangan kerja dengan kemampuan menyerap karyawan rata-rata 5-10 orang per unit usaha.

”Kebijakan yang diperlukan adalah memberi ruang bagi UMKM. Upaya menolong mereka bukan dengan menggusur, melainkan membuat pasar baru untuk berusaha dan membuka akses pasar,” kata Sandi.

Meski senang berkecimpung dalam organisasi, ia mengaku belum tertarik untuk menduduki jabatan politik. Sandi menolak anggapan bahwa kesuksesannya saat ini merupakan jalan meretas karier politik.

”Yang diperlukan bangsa saat ini adalah pengusaha,” katanya

Source : http://cetak.kompas.com/sosok
4 September 2008
by : BM Lukita Grahadyarini

Sunday, May 18, 2008

Pepsi Generation


“Succession” must be Indonesia’s theme this year – and certainly for this month. Yet while most successful changes in leadership are celebrated, Indonesians have witnessed mutual finger-pointing and black campaigns with well-publicized successions just around the corne.


There has been front page news over the race for Bank Indonesia’s new governor and hot gossip at major corporations, organizations, institutions and at the national level.

It is no secret that nearing year’s end, everyone will be speculating on the second direct presidential election next year. From the beginning of this year we have seen successions at the helm of the powerful Corruption Eradication Committee (KPK), the top management in Bank Negara Indonesia (BNI) and the conglomerate Bakrie & Brothers.

Coming up are some super-successions, with not only a change in the governor of the central bank but also of the chairman of the Constitutional Court. Towards the end of the year the leaders of the Supreme Court will also end their terms. Even my small organization, HIPMI, composed of 25,000 young entrepreneurs, will select its new leader in July this year.

Thanks to its strict principle of one-term chairmanships, I can not re-elect myself and a new leader must emerge.These events are hyped and hectic, but we should try and learn from outgoing leaders and their successors. Fine examples of succession are rare in Indonesia.

From the days of former Presidents Sukarno and Suharto - the first and second leaders of the country - the transitional period has not a peaceful process, much less a story with a happy ending. Subsequent presidents went down similar unhappy paths.

In the past, it was possible to keep the bickering over most successions involving major state officials hidden behind a screen because of the authoritarian nature of our rulers. That was until reform arrived when Suharto was forced to step down. Now, such bickering is not only revealed, but magnified thanks to a free media, although with all this so-called freedom there is still not much more the public can learn.

So what is a good succession - and why have we as a nation seen so little of it?

Authority
Let’s begin with what a succession is not.

First, a succession is not merely about leaving what one has built in order to have it taken over by a new appointee. Rather, it is about believing that a brighter future is always possible when the authority is handed over to a capable and trustworthy individual no matter what changes he or she will make.

Second, a real succession is not about a senior passing the baton to a junior. Rather, it is about handing over what is already good to become even better.

Third, a succession is not about losing a position. Rather, it is about passing the mandate to lead to others for a better tomorrow.

Fourth, a real succession is not about giving up a title when there is a higher or more powerful one ready for the taking. Rather, it is about releasing authority when there are others better placed to do the job.

Fifth, a real succession is not about appointing a person who looks up to us. Rather, it is about preparing those who are crazy enough to identify our weaknesses and tell us to change course simply because they are concerned about what is better for the organization.

Sixth, a real succession is not so much about competition - it is about sharing the same vision.

Seventh, a real succession is full of celebration, not suspicion.

Salsa partners
Just like a couple in a perfect salsa dance, a real succession celebrates the outgoing leader, hails the incoming successor and places everyone in the organization, company or country, in perfect step.

Let’s learn from Pepsi Co, a company that has evolved through decades of very real and highly envied succession.

Fortune magazine recently amazed and entertained readers with one big question: “What Makes Pepsi Great?” This article featured Indra Nooyi – Pepsi’s first female Chief Executive Officer.

The answer turns out to be beyond the genius of Nooyi and much less about its highly successful soda-free beverage. Pepsi’s success is also much bigger than its well-planned acquisition of Quaker Oats and Tropicana.

And it has little to do with Pepsi’s billion-dollar shift to supporting worthwhile causes into the company’s operation and culture. The answer to Pepsi’s success goes back to three leaders before Nooyi and every period in between.

What makes Pepsi great is a built-in process of preparing and producing a better leader than the current one, a candidate always suitable and driven when the change takes place.

“She is larger than life,” says Roger Enrico, Nooyi’s predecessor. Getting comment from those who led the company before her is not difficult, since she has kept on three of them as respected elders and advisors. “They are my bosses, and my best, best friends,” says Nooyi.

And it is true. Nooyi calls her three seniors from time to time for real business advice and the three welcome her with genuine respect as Pepsi Co. grows bigger and better.

Imagine: three world-class CEOs being available at any one time, all operating with the same intensity as when they were still running the company.

Pepsi, unlike most companies of its size, not only produces leaders, it espouses leadership not as a hollow mantra but believes in it like breakfast, lunch and dinner. Choosing a leader The next million dollar question is: how to choose a successor?

There are many answers, depending on which business books you read. Most say that a great leader prepares his or her successor from day one. So, any time the clock ticks nearer retirement he or she is prepared to hand over the position.

This is not new. What is new is the reasoning behind it - a great leader pursues the best moment to hand off authority when there is a better person prepared to take the leadership role to the next level.

In other words, succession relies less on timing than the need of the organization, companies or countries. Certainly, a few potential successors are better than just one. The best successor will be the individual who shares the same vision and is able to interpret what is in the minds of consumers, investors, and other stakeholders.

Dave Ulrich and Norm Smallwood in their book, Leadership Brand, call this a “unique capability”. In Leadership Brand, a collection of individuals is developed with the long-lasting ability to accept every challenge with the same tenacity, intensity and authenticity.

This is exactly what brands like Pepsi, Coke and Apple have proven. So have local brands such as Mustika Ratu, Teh Botol or Sampoerna. Unfortunately, the same remarkable traits have been absent in members of our parliament and high-ranking state officials.

Choosing a Leader

We can see how the recent successions at KPK and Bank Indonesia were unnecessarily hyped by negative media campaigns and rumors. With such a politically driven succession process the public must question if succession will effect their life for the better. Such a process hardly installs a capable, let alone true leader.

Thankfully, modern Indonesians are far more empowered than those of the past – as consumers, investors or simply voters – and have the power to force a suitable succession when needed. They can do this especially well when their interests are at stake. With such awakening, we must understand that succession is at the core of every leadership.

I firmly believe that a weak leader with a well-meaning succession plan is still a true leader. On the other hand, a strong leader without a succession plan is like a screen saver.

I hope and pray that my own succession at HIPMI in another three months will be smooth and celebrated. I am blessed with so many young entrepreneurs capable of taking this organization from great to outstanding. I hope that my task of grooming several smart successors will be successfully completed when the time comes.

Indonesia has seen very few exemplary successions because Indonesians choose to make them difficult. Once again, succession is like a beautiful dance: It takes two to tango.

By Sandiaga Uno
Source : Globe Asia, April 2008

Sandiaga Uno

Umurnya baru 38 tahun. Prestasinya sungguh membuat orang terkagum kagum. Saat ini beliau menjabat sebagai Ketua Umum HIPMI ( Himpunan Pengusaha Muda Indonesia ).

Majalah Globe Asia edisi Agustus 2007 menobatkan Sandi, demikian panggilan akrabnya, sebagai orang terkaya di Indonesia No. 122 dengan estimasi kekayaan sebesar US $ 80,000,000. Setara dengan Rp. 744 Miliar kalau kita konversikan dengan kurs Rp. 9,300/USD.

Sandiaga Uno memperoleh kekayaan sebesar itu melalui private equity firm yang didirikannya; yaitu; Saratoga Capital yang didirikan pada tahun 1998 dengan partner utama Edwin Soeryadjaya dan Re-Capital yang didirikan pada tahun 1997 bersama sahabat lamanya Rosan Roslani.

Bersama Saratoga, Sandi terlibat dalam mega akuisisi PT Adaro, salah satu perusahaan tambang batu bara terbesar di Indonesia, dan beberapa project infrastruktur yang sedang di genjot oleh pemerintah.

Sementara bersama Re Capital, mereka melakukan project pertama dalam refinancing McDonald's Indonesia pada tahun 1997. Proyek proyek berikutnya meliputi pembelian Bank Tabungan Pensiunan Negara ( BTPN ), Grand Kemang Hotel, Losari Resort dan infrastruktur penyediaan air bersih.

Ayah dari dua putri dan suami Nur Asia ini dikenal cerdas dan punya kemampuan khusus mengendus peluang bisnis yang gemuk. Kedua hal tersebut dikombinasikan dengan kemampuan lobby dan jaringan koleganya yang hebat membuat Saratoga dan Re Capital melesat bak meteor dalam pecaturan private equity firm di Indonesia.

Sandi merupakan kolumnis tetap di Majalah Globe Asia, bahan sorotan utamanya adalah enterpreunership, infrastructure dan sumberdaya manusia Indonesia. Saya termasuk pembaca setia kolom beliau.

Melalui blog ini pula saya akan secara rutin mensosialisasikan ide ide beliau, terutama yang di tulis di Globe Asia. Semoga ide ide brilian ini bisa memberi manfaat dan mempercepat bangkitnya ekonomi Indonesia menjadi salah satu macan Asia kembali.

One day, seandainya Sandi mencalonkan diri menjadi presiden. Saya pasti dengan sepenuh hati mendaftar jadi tim kampanyenya untuk Indonesia yang lebih baik dan sejahtera.

Semoga bermanfaat