Showing posts with label entrepreneurship. Show all posts
Showing posts with label entrepreneurship. Show all posts

Thursday, January 12, 2012

4 Tips Sukses dari 4 Milyarder Sukses

Menarik sekali membaca artikel di Detik pagi ini. Empat tips sukses dari empat milyarder yang tidak lulus sekolah. Mau tahu apa tips-tips mereka, berikut kutipan singkatnya.....

1. Sean Parker,  Salah satu pendiri Facebook dengan kekayaan US$ 2,1 miliar dan baru berumur 32-an.

Lewatkan kuliah, Google pendidikan Anda!

"Ketika alat ilmu dan pengetahuan yang luar biasa tersedia di seluruh dunia, pendidikan formal menjadi kurang penting. Kita harus berharap terus melihat kehadiran wirausaha baru yang mendapatkan sebagian besar pengetahuannya melalui eksplorasi sendiri."

2. Dustin Moskovitz, Salah satu pendiri Facebook dengan kekayaan US$ 3,5 miliar. Pria kelahiran 22 Mei 1984 itu ini memberi nasehat sbb :

Anda selalu bisa kembali

Andaikan Facebook gagal saat itu dan ia telah meninggalkan kuliah, "Saya dapat kembali ke Harvard kapanpun. Teman-teman saya mungkin tidak disana lagi. Saya mungkin harus memulai lagi masalah sosoal. Itu adalah sebuah risiko. Tapi ini adalah sebuah risiko yang cukup kecil dibandingkan kesempatan besar yang ada pada saat itu,".

3. Phil Ruffin, Pemilik Treasure Island Casino dengan kekayaan US$ 2,4 miliar. Pria tak lulus kuliah ini sukses mengembangkan bisnis hotel dan kasinonya sehingga masuk dalam jajaran orang terkaya di dunia.

Jadilah Nomor 1

"Nasihat yang akan saya berikan kepada orang muda? Berhenti dari pekerjaan Anda. Jangan bekerja untuk siapapun. Anda tidak dapat benar-benar mendapatkan uang dari bekerja pada orang lain," ujarnya.

4. John Paul DeJoria, Pemilik Paul Michell Systems, Patron Tequila dengan kekayaan US$ 4 miliar. Ia pernah menjalani hidup dengan menjual sampo dari pintu ke pintu sebelum meraup kekayaan dengan Paul Mitchell.

Pria kelahiran 13 April 1944 itu merupakan anak seorang imigran Italia dan Yunani. Setelah orang tuanya bercerai, ia mulai menjual kartu natal dan koran dengan berkeliling untuk menghidupi keluarganya. Ia meraup sukses setelah mendirikan John Paul Mitchell System dengan Paul Mitchell pada tahun 1980.

Tebal Muka!

"Saya mempelajari penjualan dan pemasaran dari mengetuk ratusan pintu tiap hari. Anda secara cepat menemukan Anda akan mendapatkan 99 bantingan pintu di muka Anda hingga bisa meraup penjualan," ujarnya.

Nah bagaimana dengan Anda ? Tips mana yang akan anda jalankan dan tekuni ? Semoga tip-tip ini bisa mengantarkan Anda menyamai sukses mereka....

Wednesday, November 30, 2011

Dibalik Kebesaran Steve Jobs....

“ Stay Hungry, Stay Foolish “

“ Innovation distinguishes between a leader and a follower “
 
“ Sometimes life hits you in the head with a brick. Don't lose faith “

 “ Your time is limited, so don't waste it living someone else's life “

Bagi anda pengagum dan pecinta Steve Jobs, kata-kata diatas pastilah sangat familiar dan bermakna dalam.Menyemangati kita untuk terus berkreasi, menjalani passion kehidupan kita, menyulut keberanian mengambil resiko dan memompa kembali semangat kita yang sering turun naik karena tantangan sehari-hari...

Baru-baru ini saya membaca biografi legenda IT tersebut yang ditulis oleh Walter Isaacson, salah satu penulis besar yang juga menulis biografi Benjamin Franklin dan Albert Einstein.

Steve Jobs sendirilah yang sampai beberapa kali membujuk Isaacson untuk menuliskan biografinya mumpung dia masih hidup. Bahkan saat-saat menjelang kematiannya karena kanker hati, istri Steve Jobs juga turut membujuk Isaacson untuk segera menuliskannya. Now or Never, karena sang istri mungkin sudah merasa Steve tidak akan berumur panjang......

Sesuai permintaan Jobs, Isaacson menulis apa adanya, tidak ada yang ditutup-tutupi dan mewawancarai orang-orang yang terlibat langsung dalam keseharian Jobs, baik di apple, Next, Pixar maupun dalam kehidupan keluarga dan komunitas kepercayaannya, Zen.

Salah satu yang sangat menarik dari buku ini adalah perangai Steve Jobs itu sendiri yang jauh bertolak belakang dari gambaran tokoh idola. Tidak menghargai kawan dan persahabatan, arogan, kasar, manipulatif dan sering memakai teknik distorsi realitas lapangan untuk mengelabui rekan-rekan kerjanya.

Bahkan terhadap anak kandungnya sendiri, Lisa Brennan Jobs, yang merupakan hasil hubungan dengan kekasihnya yang bernama Chrisann Brennan, Jobs baru mengakui bahwa itu anaknya setelah melalui proses yang panjang, rumit dan proses pengadilan. Didahului dengan penyangkalan-penyangkalan keras dan pertengkaran dengan Ibu si bayi.

Dalam pekerjaan Jobs sangatlah dominan, ingin mengendalikan semua proses kerja dari hulu sampai hilir. Sering sekali mencerca hasil kerjaan stafnya yang tidak sesuai keinginannya, makian seperti ‘Ini sampah !’ adalah ucapan sehari-harinya. Walaupun belakangan apabila hasil kerja itu terbukti benar, dia akan memakainya tanpa merasa perlu utk meminta maaf atau memberi apresiasi ke staf tersebut.

Distorsi realitas lapangan juga sangat sering dipakai Jobs. Dalam menciptakan produk-produk baru, menyusun strategi pemasaran ataupun saat akan menjalin kemitraan dengan pihak lain, Jobs sering sekali memanipulasi data dan fakta lapangan. Hal ini dia lakukan agar pihak-pihak tersebut mengikuti keinginan dia sepenuhnya tanpa memperhatikan realitas yang terjadi di lapangan.

Strategi ini sering berhasil diterapkan pada rekan-rekannya di apple, namun gagal total saat diterapkan untuk mengelabui Bill Gates, pemilik Microsoft, yg saat itu skala bisnisnya baru sepersepuluh kali apple....

Bagaimana perlakuannya terhadap Stephen Wozniak, mitra pertama sekaligus penemu papan sirkuit apple, juga menggambarkan betapa egoisnya Steve Jobs. Wozniak yang tidak cocok bekerja dengan Steve Jobs memilih untuk tetap bekerja free lancer buat HP dan bahkan membagi-bagikan saham apple haknya utk beberapa sahabat dekatnya yang turut membantu diawal-awal pendirian apple.

Di kehidupan rumah tanggapun tidak kurang anehnya. Diceritakan dalam buku Steve Jobs sampai berdebat dan diskusi detail dengan istrinya selama tiga minggu hanya untuk membeli jenis mesin cuci seperti apa yang akan dipakai, dan warna apa yg akan dipilih...

Terlepas semua kepribadian Jobs yang mungkin aneh buat manusia normal, kita tetaplah harus angkat topi untuk sumbangsihnya terhadap kemajuan teknologi yang membuat hidup jauh lebih nyaman untuk dinikmati, untuk capaiannya membangkitkan kembali apple dari keterpurukan menjadi perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar dunia dan cadangan uang cash nya melebihi persediaan uang pemerintah Amerika Serikat.

Sungguh relevan kata F Scott Fitzgerald, “ Show me a hero and I will write you a tragedy “


Tuesday, November 29, 2011

Fenomena D'Cost, Mutu Bintang Lima Harga Kaki Lima

Mutu Bintang Lima Harga Kaki Lima, begitulah kira-kira semboyan yang diusung restoran cepat saji D'Cost. Restoran yang banyak menyajikan masakan seafood ini menjadi fenomena dan perbincangan kalangan penikmat kuliner menengah bawah di Jakarta.

Digawangi oleh David V Marsudi dan Hari Setiadi yang sejatinya adalah pengusaha properti, D'Cost menawarkan harga murah dan terjangkau buat konsumen, sementara mutu makanan tetap terjamin layaknya resto-resto ngetop lain. Kebersihan dan kenyamanan restoran juga tidak kalah dengan restoran di mal-mal menengah atas.

Tidak jarang kita melihat pengunjung rela antri berjam-jam untuk mendapat kursi di D'Cost. Di Bintaro, saat akhir minggu, saya sering melihat antrian mengular ketika jam makan siang tiba. Hal ini tak lepas dari promo-promo kreatif yg sering dilakukan D'Cost, menabrak pakem yg ada dan out of the box banget.

'Silakan bayar terserah anda', setelah kenyang makan pengunjung cukup menunjukan kartu kredit dan membayar seikhlasnya, rp. 5,000, rp 10,000 atau lainnya, berapa banyakpun yg mereka makan. Promo ini hanya utk mengidentifikasi pengunjung potensial saja.

'Diskon sesuai usia', ini promo memberi diskon sesuai usia pengunjung, diskon 50% kalo anda usia 50. Bahkan saat ada rombongan keluarga yg membawa neneknya berusia 103 tahun, D'Cost menggratiskan mereka semua, walaupun sang nenek cuman duduk dipojokan sambil makan tahu doang...

Apakah D'Cost tidak rugi ? Tentunya manajemen sdh memiliki perhitungan yg matang. Faktanya sejak didirikan tahun 2006 di Kemang, jumlah resto D'Cost sdh menggurita menjadi 50 buah dan menempati lokasi-lokasi strategis di Jakarta. Dan akan terus melebarkan sayap ke kota-kota besar di Indonesia.

"Tujuan kami adalah membikin semua orang yg datang ke D'Cost gembira, kami sediakan fasilitas restoran bagi tamu yang mau menikmati masakan rumah dg harga murah di D'Cost" begitu kata David sang pemilik.

Menilik tujuan diatas, saya jadi ingat Tony Hsieh, sang pendiri Zappos, retail online store sepatu dengan omset triliunan di Amerika. Filosofi bisnis Tony adalah 'delivering happiness', bagaimana memberi kebahagiaan kepada semua customer pembeli sepatu di Zappos.

Penguasaan atas properti-properti strategis yg ditempati D'Cost juga mengingatkan saya akan strategi Ray Kroc sang pendiri McDonald. Ray Kroc pernah berujar 'sejatinya bisnis utama McDonald bukanlah jualan hamburger, tetapi penguasaan atas properti-properti ditempat-tempat strategis diseluruh dunia'.

Apapun bisnis dan tujuan D'Cost, yang jelas kehadirannya sdh membuat bahagia penikmat kuliner menengah bawah Jakarta. Maju terus P David dan P Hari, kami terus memantau dan belajar dari strategi-strategi bisnis Anda....

(Sebagian disarikan dari suplemen Kompas tgl 28 Nov 2011 : Investasi 2012)

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Saturday, November 26, 2011

40 Orang Terkaya Indonesia...


Forbes edisi November 2011 kembali memuat daftar 40 orang terkaya Indonesia, tepatnya 40 keluarga terkaya di Indonesia karena yang dihitung bukanlah kekayaan perorangan tapi keluarga yang mendalikan korporasi mereka.

Ke 40 keluarga ini menguasai kekayaan sebesar Rp. 761.7 Triliun atau US $ 84.82 miliar dengan asumsi kurs Rp 9.000 per dollar. Sebuah angka yg fantastis di saat pendapatan perkapita warga Indonesia rata-rata Rp 30 jutaan setahun.

Tujuh nama baru masuk dalam daftar tersebut dan tujuh nama lainnya terpental dari daftar.
Diantara tujuh nama baru yang masuk, tercantum sosok yang saya kenal dengan baik, yaitu Bp Soegiarto Adikoesoemo, pemilik dan pendiri AKR Group, tempat saya pernah berkarya lima tahun. Beliau tercantum dinomor urut 33 dengan estimasi kekayaan US $ 770 juta.

Soegiarto Adikoesoemo, atau yg lebih sering disapa Pak Gik oleh para sahabat dekatnya, merupakan pengusaha asli Malang yang merintis usahanya dari bawah di Surabaya.

Berawal dari menjadi distributor bahan-bahan kimia, mendirikan pabrik Sorbitol dan menggurita menjadi konglomerasi besar dengan masuk ke sektor properti dan energi. Belakangan AKR juga masuk ke sektor distribusi energi untuk konsumen retail dengan mendirikan beberapa SPBU di Sumatera dan Kalimantan.

Sosok Pak Gik yang saya kenal adalah sosok yang sederhana, santun, sangat teliti dan tegas dlm mengambil keputusan. Pertimbangan sangat matang sekaligus cepat.

Dari beberapa cerita kawan-kawan senior di AKR, beliau merupakan orang yg rasa ingin tahunya tinggi, masih terus belajar pada hal-hal baru. Dalam setiap kunjungan kerja selalu ditemani buku kecil dan pulpen, rutin mencatat hal baru dan penjelasan dari orang-orang lapangan yg ditemuinya.

Komitmen beliau utk menyelesaikan masalah juga sangat kuat. Pernah ketika ada masalah dengan salah satu pabriknya di Cina, beliau menyempatkan diri tinggal di pabrik, membawa juru masak dari Indonesia, dan berlangsung berbulan-bulan sampai masalah dapat diselesaikan.

Selamat Pak Gik atas pencapaiannya. Namun saya yakin pencapaian masuk daftar 40 besar orang terkaya di Indonesia bukanlah sebuah tujuan utama Bapak membangun AKR.

Tujuan utama tentunya memberi kontribusi sebesar-besarnya untuk menunjang perekonomian Indonesia, membuka seluas mungkin lapangan kerja dan memberi manfaat buat semua stakeholder seperti yg sering Bapak utarakan dalam rapat-rapat BOD yang dulu sering saya ikuti.

Wednesday, November 23, 2011

Bu Susi dan Penerbangan Perintis...

Siang tadi sebuah sms masuk ke handphone saya mengabarkan berita duka jatuhnya satu pesawat Susi Air jenis VVG Caravan di Kabupaten Intan Jaya, Papua. Pilot tewas seketika dan Co Pilot luka serius, keduanya ekspatriat dari Spanyol dan Selandia Baru.

Saya jadi teringat pengalaman saya terbang dengan susi air menuju Tabalong, Kalimantan Selatan. Pesawat dengan hanya enam penumpang tersebut diawaki dua pilot ekspatriat yg bekerja utk Susi Air.

Pengalaman terbang itu menjadi istimewa karena Bu Susi Pudjiastuti sendiri yang jadi cabin crew selama penerbangan, beliau dengan piawai menerangkan teknis detail pesawat yg kami naiki, posisi duduk, penyimpanan makanan dan snack, serta mengingatkan seatbelt utk tetap terpasang selama penerbangan

Kok Bu Susi sendiri yg turun tangan ? Iya, karena saya terbang bersama seorang pemilik Group pertambangan besar di Indonesia, rupa-rupanya beliau inilah yg mendukung Bu Susi untuk mengembangkan penerbangan perintis ke daerah daerah terpencil, termasuk ke lokasi tambang-tambang beliau di Kalimantan.

Tadinya dari satu dua pesawat utk mengangkut hasil laut, sekarang Susi Air berkembang menjadi puluhan pesawat yg melayani pertambangan di daerah terpencil, bahkan sampai ujung pegunungan Papua.

Bu Susi juga bercerita sudah melayani jasa perkebunan sawit, dari pemetaan lahan perkebunan sampai valuasi nilai kebun dg menghitung jumlah tegakan pohon di perkebunan melalui pesawat dan teknologi yg mereka miliki. Tak satu petak lahanpun akan tertinggal.

Sosok Bu Susi merupakan gambaran perjuangan wanita pengusaha yang jatuh bangun membangun usaha dari nol dan kemudian sukses tanpa dukungan pemerintah.

Kepeduliannya pada nelayan kecil disepanjang pantai selatan jawa menginspirasinya utk membeli pesawat dan memasarkan tangkapan mereka ke Jepang dan lainnya agar memperoleh harga yg layak.

Kepeduliannya pada masyarakat daerah-daerah terpencil kembali menginspirasinya utk menambah armada pesawat hingga berjumlah puluhan dan merintis penerbangan kesana. Kita juga ingat pesawat Susi Air lah yg pertama mendarat di Aceh pasca dihantam mega tsunami dan Bu Susi sendiri ikut dalam pesawat tersebut.

Go Susi Air ! Semoga kecelakaan kecil ini tidak menjadi sandungan utk tetap melayani masyarakat terpencil. Bangsa ini masih membutuhkan semangat dan inspirasimu

Tuesday, June 30, 2009

My Farewell Email...

Dear All,

As some of you already know, today is my last day with AKR Group. I am leaving this amazing group to start my ‘crazy’ entrepreneurship journey.

I’ve learned so much during my two years with AKR and two and half years with SAAC. I’ve grown both personally and professionally, and I attribute much of my growth to the team, especially Corporate Assurance team in AKR and Lampung & Agro Project team in SAAC.

I would like to apologize any mistake during my service in this group and also would like to share few life lessons I’ve learned from all of you.

1. Keep your mind open. Your brain is like parachute, only useful when its open. Learn from your mistake and others mistake. When you can learn from others mistake it will be much more cheaper. Your learning curve will be very fast.

2. Do networking. Your ability to network effectively is your key success in your career. Try to build a relationship with everyone you meet, and even more importantly maintain these relationships throughout your career. Indeed, authentic relationships are the only things that truly matter in life.

3. Dream big. Don’t afraid of dreaming, even day dreaming, its free and costless to us. Big dream can passionate whatever you do in your life. Michael Angelo said that the most dangerous thing in our life is not fail to achieve the big dream, but succeed achieving small dream and then stop.

Finally, thanks all for being my friend, partner, subordinate or superior. I appreciate having had the opportunity to work for such a fine company and great friends. I wish all of you and the company continued success.

Best regards

Ardiansyah




Sunday, June 21, 2009

Perangkap Kera....

Konon jaman dahulu kala, suku suku di pedalaman Afrika menggunakan kendi untuk berburu kera. Kendi dengan bentuknya yang unik, lebar di mulut, lebar ruang dalam dan leher yang menyempit sangat tepat untuk memerangkap tangan kera sehingga tidak bisa melepaskan diri.

Kendi diikat pada sebuah pohon besar dan didalam nya di taruh kacang kesukaan kera. Kacang juga di taburkan di sekeliling kendi untuk memancing kera datang. Saat kacang diluar sudah habis, kera akan memasukkan tangannya dan mengambil kacang dalam kendi. Saat itu pula tangan menggenggam erat kacang dan tidak bisa ditarik keluar karena leher kendi yang sempit untuk tangan yang selalu tergenggam.

Cerita diatas sudah sering saya dengar dari beberapa orang. Pertama saya mendengarnya saat mengikuti seminar Tung Desem Waringin. Kemudian saya juga membacanya dalam Success Principle nya Jack Canfield. Beberapa motivator pun sering mengungkapkan metafora ini di radio radio.

Kenapa kera tidak mau melepaskan kacang dalam genggamannya dan dengan mudah melepaskan diri dari perangkap ?

Sebuah pertanyaan filosofis yang juga layak di tanyakan pada diri kita....


Kera tidak mau melepaskan genggamannya karena dia sudah memperoleh makanan dengan cepat dan mudah. Sebuah kepastian makanan yang ada di genggaman. Walaupun terikat pada kendi dengan tali yang hanya beberapa meter dia tidak mau melepaskannya lagi.

Sadar atau tidak sadar kera ini hanya menunggu waktu sang pemburu datang untuk menangkapnya dan menjualnya ke pasar atau untuk santap malam anggota suku.

Padahal kalau kera itu mau sedikit berusaha dan mengambil sedikit resiko, tidak hanya terfokus pada kacang yang sudah di genggaman. Banyak sekali sumber makanan di hutan itu yang bisa dia jelajahi dan eksplore. Ada bermacam macam buah buahan yang tumbuh disana, biji bijian yang sangat menyehatkan dan bermacam macam dedaunan yang menguatkan tubuhnya. Juga arena bermain yang sangat luas.

Yang harus dia lakukan hanyalah mencari, mengeksplore dan berusaha lebih keras dari sekedar menunggui kacang di genggaman yang terikat pada kendi itu.

Tentu saja ada juga resiko yang harus dia hadapi, bisa saja di terkam harimau, atau bahkan ditelan ular raksasa. Namun terikat pada kendi bukanlah sebuah pilihan, karena resiko ditangkap saat pemburu datang sudah merupakan kepastian. Belum lagi kalo lagi harimau atau ular datang dia tidak punya kesempatan untuk lari dan menghindar….

Begitupun kebanyakan dari kita. Kita sering terpaku pada comfort zone kita dan tidak mau beranjak dari situ. Setia menggenggam apa yang kita dapatkan sekarang dan menunggu waktu sampai entah kapan. Arena bermain kita sebatas panjang tali yang diikatkan pada comfort zone kita. Sebuah kehidupan sempit yang dijalani jutaan orang di tangga korporasi perusahaan.

Setahun terakhir saya memikirkan metafora diatas. Selalu menggelitik perenunganku.

Sampai kapan saya terikat pada kendi di pohon itu. Sampai kapan harus menjalani kehidupan sempit sebatas panjang tali yang seolah olah selalu di tarik ulur pemburu setiap saya memberontak.

Saya bukanlah kera dan tidak ingin terikat pada kendi yang sama……..

Akhirnya saya punya keberanian memutuskan. Melepas semua kacang dalam genggaman. Masuk hutan mencari kehidupan luas yang mengasyikan. Tentu saja saya sudah berbekal peta hutan, belajar ilmu menaklukan harimau dan mendalami ilmu loncat pohon untuk lari dari kejaran ular.

Saturday, May 23, 2009

Tujuh Pilar Bisnis Virgin Group


Seperti yang pernah saya ulas dalam tulisan pertama. Pada dasarnya pilar bisnis Virgin Group dibagi menjadi tujuh pilar utama.

Ketujuh bidang tersebut meliputi : People, Brand, Delivery, Learning from Mistake and Setbacks, Innovation, Entrepreneurs & Leaderships, and Social Responsility.

People : finding good people and set them free, key success dalam sebuah bisnis adalah mencari orang yang tepat yang akan menjalankan bisnis tersebut. Menurut Richard Branson patokan utama yang harus dipegang teguh adalah karakter dan integritas, passion terhadap bisnis yang akan dijalani dan open minded terhadap ide ide baru. Skill menjadi prasyarat nomor sekian karena semua skill bisnis bisa di pelajari asal kita punya passion yang besar.

Dengan pola bisnis Virgin Group yang hampir semuanya di jalankan melalui ventura, people menduduki deretan teratas dalam prioritas bisnis Virgin Group. Semua karyawan kunci yang diajak bisnis oleh Richard Branson selalu mendapat bagian saham. Sampai dengan saat ini sudah ratusan karyawan kunci Virgin Group yang menjadi milyuner berkat system Ventura yang di jalankan.

Virgin Group juga sangat menghargai kebebasan karyawan dalam inovasi. Semua karyawan harus terbuka, saling berkomunikasi dalam mengemukakan ide dan gagasannya. Tidak ada ide yang bodoh. Ide bodoh adalah ide yang tidak diungkapkan.

Yang rada unik, pada awal awal bisnisnya. Richard Branson sangat percaya bahwa kalau sebuah bisnis karyawannya sudah mencapai 100 orang maka harus di pecah. Dibuat unit bisnis baru. Karyawan yang terlalu banyak tidak akan menumbuhkan kreatifitas dan memperlambat proses pengambilan keputusan.....

Brand and Delivery : Conventional wisdom yang dianut oleh hampir seluruh perusahaan besar dunia adalah focus pada apa yang kita ketahui, focus pada passion dan skill terbaik yang kita miliki.

Dari konsistensi focus dan selalu berusaha mencari perbaikan pada apa yang kita tekuni. Lahirlah brand brand dunia yang sangat besar. Coca Cola & Pepsi focus pada minuman soda. Microsoft, Oracle & SAP focus pada software, Intel focus pada processor dan Nike ataupun Adidas focus pada sepatu olahraga.

Namun Virgin adalah sebuah pengecualian. Virgin merupakan sebuah brand besar yang tidak focus pada hanya satu bidang usaha saja. Lini usahanya merentang dari rekaman, media, penerbangan, telekomunikasi, resort, kebugaran, keuangan, kereta api sampai wisata ruang angkasa. Virgin memiliki keunikan tersendiri.

Lantas apakah Virgin tidaklah focus ? Salah besar kalau kita menyangka Virgin tidak memiliki focus.

Untuk menopang brand yang sangat besar, focus Virgin adalah virgin customer experience. Virgin tidak focus pada produk atau bidang usaha yang digeluti. Tetapi apapun produk dan bidang usaha itu, haruslah memiliki Virgin customer experience.

Fokus pada usaha terus menerus untuk memberikan yang terbaik buat customer, membuat customer merasa istimewa dan bahagia pada setiap produk dengan brand Virgin. Hal ini juga merupakan salah satu filosofi bisnis paling utama dari pendirinya, Richard Branson.

Gaya hidup Richard Branson juga turut mengerek brand Virgin dimata customer. Gaya hidup eksentrik, santai sekaligus pekerja keras, risk taker, fearless, cinta damai, pro lingkungan dan keperdulian yang sangat tinggi pada warga yang kurang mampu.

Salah satu nasehat utama Richard Branson untuk membuat brand kita tetap dicintai customer adalah, “ Dalam bisnis atau produk apapun sebuah brand. Anda harus deliver apa yang dijanjikan. Jangan pernah menjanjikan apapun yang tidak bisa Anda deliver “.

Delivery adalah soal detail. Rincian sampai sekecil mungkin mengenai harapan customer akan produk atau jasa yang kita tawarkan. Kegagalan membuat sebuah rincian harapan customer merupakan awal kegagalan sebuah delivery dan tanda tanda hancurnya sebuah brand.

The devil is in detail. Dalam setiap bisnis yang ingin dimasukinya, Richard Branson selalu minta sebuah perencanaan detail segala aspek bisnis tersebut kepada mitra yang mengajak. Opini pihak ketiga dari masing masing ahli dibisnis itu juga selalu dia mintakan. Tak jarang ahli tersebut kemudian bergabung pula dalam bisnis yang dimasuki ini.

Konsistensi Richard Branson dalam urusan detail inilah yang merupakan kunci sukses dalam setiap bisnis yang dia masuki. Seolah memiliki sentuhan midas, bisnis apa saja yang dimasuki pasti sukses. Tidak sedikit perusahaan yang hampir bangkrut menjadi sukses besar setelah di branding dengan brand Virgin.

Virgin customer experience seolah menjadi mantra jaminan bagi jutaan customer yang dilayani.

Friday, May 22, 2009

Hasil tergantung respon kita terhadap kejadian yang ada


Seorang teman datang kepada saya. Dengan berapi api mengeluhkan sikap atasannya yang tidak menghargai pekerjaan dia. Semua yang sudah dikerjakan selalu dicela kekurangannya, sementara sisi positifnya tidak pernah diungkap. Kondisi ini sudah berlangsung lebih dari dua tahun sehingga teman saya ini menyimpulkan tidak akan pernah punya prospek karir lagi diperusahaannya.

Herannya ! dia sampai sekarang tetap saja bertahan di perusahaan itu dan menjalani frustasi berkepanjangan.

Rekan lain mengeluhkan sikap mitra kerjanya yang tidak professional. Hanya di awal awal pekerjaan mitra nya semangat, begitu sampai pada titik tersulit dan mitra ini sangat dibutuhkan tim. Dia kabur. Tidak meninggalkan berita apapun dan susah di kontak. Padahal deadline pekerjaan mesti diselesaikan. Dengan susah payah dan penuh gerutuan rekan saya inipun terpaksa menyelesaikan semuanya.

Namun herannya, kalo ada project project yang menarik. Rekan saya ini masih saja mengajak mitra tersebut dengan alasan banyak ilmunya, tidak enak kalo ditinggal dan ratusan alasan pembenaran lain.

Setiap pagi atau sore kalo kita dengarkan radio. Banyak sekali keluhan yang dilontarkan masyarakat mengenai kemacetan yang terjadi di sepanjang jalan ke kantor atau pulang kerumah. Lampu merah yang tidak menyala. Absennya petugas diperempatan perempatan rawan macet. Main serobot oleh pengemudi lain atau bahkan pengemudi yang tidak bisa menahan emosinya dan berantem di jalanan.

Keluhan seperti ini hampir setiap hari terjadi. Dan sudah berlangsung bertahun tahun. Namun sampai sekarang belum pernah ada perbaikan yang berarti sehingga menimbulkan frustasi masyarakat.

Dari tiga contoh keseharian diatas, semuanya berujung pada rasa frustasi kita. Kita menghadapi kondisi yang tidak bisa banyak kita ubah. Atasan yang tidak fair, rekan kerja yang tidak professional ataupun kemacetan dijalanan setiap jam berangkat dan pulang kantor.

Jack Canfield dalam sebuah bukunya membuat sebuah formula sederhana untuk menghadapi kondisi seperti diatas :

Events + Responses = Outcome

Ide dasarnya adalah hasil apapun yang kita peroleh; rasa bahagia atau frustasi, kesehatan yang prima atau sakit sakitan; kita kaya atau miskin, sukses atau gagal, merupakan hasil dari respon kita terhadap kejadian ( events ) yang kita alami dalam hidup kita.

Kita bisa saja selalu menyalahkan kejadian (events) yang menimpa kita atas hasil (outcome) buruk yang kita peroleh. Hal ini tidak akan memberikan dampak perbaikan apapun dalam kehidupan kita. Yang ada malah frustasi berkepanjangan karena kita ternyata tidak mampu mengubah kejadian tersebut.

Ternyata bukan kejadiannya yang mesti kita ubah. Tapi diri kitalah yang harus berubah. Respon kita terhadap kejadian itulah yang menentukan kualitas hasil ( outcome ) sehingga sesuai dengan yang kita inginkan. Mari kita bayangkan pada tiga situasi yang sering kita alami diatas.

Situasi pertama; kita tidak mampu merubah sikap atasan kita untuk lebih fair, namun kita bisa mengubah respon kita. Kalau kita selalu minta masukan sisi mana saja yang masih kurang dari pekerjaan kita dan solusi perbaikan apa yang dia tawarkan. Maka setahap demi setahap kualitas pekerjaan kita akan semakin meningkat.

Seandainyapun ini sudah kita lakukan bertahun tahun dan atasan tetap tidak fair. Tanpa kita sadari kualitas pekerjaan kita sudah meningkat jauh. Sudah saatnya kita mencari pekerjaan lain. Banyak sekali pekerjaan diluar sana yang membutuhkan kita. Atau bisa juga kita mendirikan perusahaan sendiri.

Situasi kedua; kita tidak mampu merubah sikap tidak professional mitra kita. Kalau respon kita hanya selalu mengeluh, maka tidak ada perbaikan apapun pada kita sendiri. Ya mudahnya kita tinggalkan saja mitra seperti ini. Kita perbaiki diri kita sendiri untuk bisa mengisi kelebihan yang dimiliki mitra kita, atau kita cari mitra baru yang lebih professional.

Situasi ketiga; banyak orang stress dan frustasi setiap hari menghadapi kemacetan lalu lintas. Usaha paling minimal yang bisa kita lakukan adalah kita berkendara dengan disiplin. Untuk menghindari kemacetan, kita bisa berangkat lebih pagi. Bisa juga kita siapkan buku atau majalah yang bisa kita baca (kalau pakai sopir) atau mendengarkan siaran radio yang bermanfaat atau musik.

Saya sendiri hampir setiap pagi juga menghadapi kemacetan lalu lintas. Sekarang saya sudah tidak frustasi lagi. Saya dengarkan Andrie Wongso, James Gwee ataupun Arvan Pradiansyah di Smart FM kalo pagi, TDW, Bambang Syumanjaya atau Jansen Sinamo kalo sore. Bisa juga Jamil Azzaini di Trijaya FM.

Walaupun dirumah langganan Kompas. Dilampu merah saya selalu sempatkan beli Kontan dan membaca ulasan saham saham layak koleksi kalau macet parah di lampu merah. Kita tidak frustasi, banyak manfaat yang bisa didapat.

Jadi keputusan ditangan Anda. Mau frustasi berkepanjangan atau merubah respon Anda dengan hal hal yang lebih bermanfaat sehingga outcome nya memperbaiki kualitas hidup anda.

Semoga bermanfaat

Tuesday, May 12, 2009

Business Stripped Bare : Adventures of Global Entrepreneur


Tahun 1966. Sebuah group media cukup besar di Inggris yang menguasai beberapa surat kabar dan majalah, tertarik untuk mengakuisi sebuah majalah remaja bernama Student.

Setelah melalui sebuah riset singkat mereka mengajukan penawaran sebesar ₤ 80,000 poundsterling kepada pemilik sekaligus Chief Editor Student yang merupakan seorang remaja berusia 16 tahun. Dengan opsi pemilik lama diberi kewenangan untuk tetap menjadi Chief Editor dan menjalankan tabloid tersebut. Sebuah tawaran fantastis untuk seorang remaja yang baru keluar dari SMA.

Membayangkan kehidupan yang menyenangkan. Membeli rumah di sebuah pantai dan menghabiskan sisa hidup dengan berpetualang membuat remaja tersebut segera mengiyakan tawaran ini. BOD meeting pun di gelar oleh group media tersebut guna mendengar lebih jauh potensi pengembangan apa yang bisa dilakukan terhadap majalah Student.

Sang remaja dengan tangkas menjawab semua pertanyaan seluk beluk beroperasinya majalah Student termasuk potensi pasar yang ada dan strategi pengembangannya. Puas dengan jawaban tersebut. BOD melanjutkan dengan visi dan misi bisnis remaja tersebut.

Dengan sangat antusias remaja itu memaparkan bahwa majalah student hanyalah salah satu entry bisnisnya. Dia ingin mengembangkan Student menjadi sebuah Brand global yang akan merambah bisnis rekaman, chain store, keuangan, penerbangan, telekomunikasi dan bahkan wisata resort.

Mendengar uraian anak muda ini, BOD terperangah dan menganggap remaja ini sebagai orang yang kurang waras. Deal akuisisipun di batalkan. Melayanglah kesempatan mendapatkan uang ₤ 80,000 poundsterling.

Puluhan tahun kemudian salah satu BOD group media tersebut, Patricia Lambert, menelpon sang remaja dan mengungkapkan penyesalannya kenapa dulu membatalkan akuisisi. Kini bisnis sang remaja sudah menjadi brand global yang sangat disegani. Jenis usahanya merentang dari media, rekaman, chain megastore, telekomunikasi, penerbangan, keuangan, wisata resort, club kebugaran, kereta api, wisata ruang angkasa dan lainnya.

Remaja tersebut bernama Richard Branson. Seorang penderita Dislexia (penyakit kesulitan membaca) dan tidak pernah punya prestasi baik disekolahnya. Brand global yang diusungnya adalah Virgin Group.....

Saat ini nilai bisnis dibawah Virgin Group di prediksi bernilai US $ 12 triliun. Ini penilaian setelah dihantam krisis akhir 2008 lalu. Majalah Forbes tahun 2008 menobatkannya sebagai salah satu orang terkaya dunia dengan estimasti kekayaan bersih US $ 2.4 Triliun.

Virgin Group juga merupakan sponsor utama dari tim pendatang baru ajang Formula One yang cukup fenomenal dengan memenangi beberapa balapan pendahuluan : Brawn GP dengan pembalap Jenson Button & Rubben Barrichello.

Kisah tersebut dimuat dalam buku terbaru Richard Branson : Business Stripped Bare – The Adventure of Global Entrepreneur.

Buku ini mengupas tuntas filosofi bisnis Richard Branson dan Virgin Group. Bagaimana dia membesarkan brand Virgin, melebarkan sayap dari home country, United Kingdom, ke mancanegara. Bagaimana menghandle hambatan dari pesaing pesaingnya di UK, US dan Australia saat mendirikan penerbangan murah Virgin Airways.

Bagaimana kisah kisah kegagalan Virgin Group berkompetisi dengan raksasa minuman dunia Coca Cola dan kegagalan Richard Branson mengakuisisi sebuah lembaga keuangan raksasa inggris Northern Rock yang limbung karena imbas krisi US mortgage tahun 2007 lalu.

Filosofi bisnis Virgin Group pada dasarnya adalah bagaimana memberi nilai tambah secara maksimal pada setiap industri yang dimasukinya sehingga konsumen memperoleh produk atau jasa terbaik atas uang yang mereka belanjakan.

Dalam menjalankan filosofi diatas, Richard Branson membaginya menjadi tujuh bidang yang sangat penting dan merupakan back bone yang menopang roda beroperasinya Virgin Group diseluruh dunia.

Ketujuh bidang tersebut meliputi : People, Brand, Delivery, Learning from Mistake and Setbacks, Innovation, Entrepreneurs & Leaderships, and Social Responsility.

People : finding good people and set them free, key success dalam sebuah bisnis adalah mencari orang yang tepat yang akan menjalankan bisnis tersebut. Menurut Richard Branson, dalam mencari orang yang tepat, patokan utama yang harus dipegang teguh adalah karakter dan integritas, passion terhadap bisnis yang akan dijalani dan open minded terhadap ide ide baru. Skill menjadi prasyarat nomor sekian karena semua skill bisnis bisa di pelajari asal kita punya passion yang besar.

to be continued…

Saturday, May 09, 2009

TDA Goes to Matrade 2009 - story behind the scene


International business matching (IBM) & Malaysian international halal showcase (MIHAS) merupakan gelaran pemerintah Malaysia untuk mendatangkan buyer buyer mancanegara dan mempromosikan produk produk UKM Malaysia ke pasar dunia.

Tahun 2009 adalah tahun keenam di selenggarakannya acara yang cukup sukses mendatangkan buyer mancanegara ini. Bagi komunitas TDA, tahun 2009 ini merupakan tahun kedua ikut berpartisipasi aktif menggelar produk produk dan peluang usaha member TDA yang ada di Indonesia.

Dibalik sukses besar pemerintah Malaysia mendatangkan buyer mancanegara. Saya & tim Oasis Fashion mencoba memotret sisi lain perjalanan teman teman TDA yang mengikuti acara ini. Tentu saja karena saya hanyalah peserta, bukan panitia dari TDA, saya hanya melaporkan sejak keberangkatan dari cengkareng yang kami alami......

Keberangkatan
Kita berangkat menggunakan budget flight Air Asia dengan jadwal jam 07.30 dan diminta berkumpul di airport jam 05.30. Dua jam sebelum keberangkatan untuk memudahkan check in bersama. Artinya buat saya yang tinggal di Bintaro dan mesti menjemput Pak Yanto di BSD harus berangkat jam 04.30, satu jam perjalanan menjelang subuh....taksi sudah saya pesen sebelum tidur utk stand by dirumah jam 04.15.

Namun apa mau dikata, jam 04.00 saya bangun pagi dan cek sms, ada pemberitahuan pesawat di tunda jam 10.45. Sementara taksi sudah menunggu sejak jam 04.15 di depan rumah. Mau membatalkan juga tidak enak dan kalau berangkat diatas jam 07.00 takut kena macet. Akhirnya dengan semangat 45 kita tetep putuskan berangkat pagi jam 05.00 setelah sholat subuh...ternyata sampai bandara sudah ada temen kita yang datang lebih pagi lagi...jam 03.00 dari tambun dan sholat subuh di bandara.

Halo Mas Faif ? gimana rasanya berangkat sambil terkantuk kantuk ? he.he.he ternyata Mas Faif tidak membaca sms dengan teliti, mungkin saking semangatnya mau ke Malaysia....

Lesson learned 1 : cek semua informasi sampai detik terakhir dengan teliti, confirm dan reconfirm kalau di perlukan !

Satu dua jam kemudian peserta lain mulai berdatangan. Dimulai dari temen temen GEC ( Garut Enterpreneur Club ) Pak Ismail, Danang dan Mas Riko...diikuti Ustadz Hertanto dan istri, sang kepala suku Mas Yurisman dan hampir semua rombongan akhirnya sampai....

Tinggal satu orang yang masih belum nongol, masih di bus dan berangkat dari Rawamangun jam 08.00 pagi. Hari senin pula ! Jam macet macetnya Jakarta. Ternyata peserta ini ( M Asrullah ) dari Samarinda dan menginap di rumah Pak Hantiar. Menurut beliaunya saran dari Pak Hantiar berangkat jam 08.00 masih cukup sampai bandara....memang masih cukup tapi sampai bandara jam 10.00, hanya tersisa 45 menit untuk check in bagasi yang berjibun dengan dodol garut, kuku macan, keripik pisang, keripik nangka dan masih harus ngurus bebas fiskal....

Check in imigrasi pesawat sudah mulai boarding..untungnya masih sempet naik pesawat. Hanya tidak dapat paket sarapan dari Air Asia sebagai kompensasi terlambatnya pesawat. Save by the bell..untungnya saya, pak yanto, mas faif, pak hertanto dan mas aris sempet check in duluan...

Lesson learned 2 : Kalo ke bandara, terutama naik bis senin pagi, alokasikan waktu yang cukup. Antisipasi kemacetan dan prosedur check in yang belum kita mengerti. Apalagi buat kepala suku Mas Yurisman, ini pengalaman pertama ke LN kali he.he.he..

Kita sampai terminal budget flight Air Asia jam 14.00 dan segera mencari team Matrade 2009 yang akan menjemput ke hotel. Namun karena pesawat terlambat, bus penjemputan kita di gabungkan dengan delegasi dari Uzbekistan, cuman kita mesti menunggu tiga jam lagi di ruang tunggu Air Asia (untungnya delegasi dari Uzbekistan cantik canti juga, jadi kesel terlalu lama menunggu terhapuskan..he.he.he.).

Terpaksa melewatkan lunch dengan Dodol Garut Picnic dan kuku macan....barang pameran dibuka satu pack untuk makan siang rombongan....

Musibah kecil beruntun menimpa salah satu peserta dari Garut Enterpreneur Club ( Bpk Ismail) ; paspor tidak dicap imigrasi Jakarta, HP hilang di pesawat, kunci koper bagasi tidak bisa dibuka karena mungkin koper dibanting dan kebentur di gemboknya.

Lesson learned 3 : Watch your belongings dan recheck everything !

Delegasi Jakarta sampai hotel jam 18.00 dan briefing dari Mbak Deasy – Matrade. Semua sudah pengen ngamar, mandi dan jalan jalan. Acara bebas kemana suka asal bisa pulang ke hotel dengan selamat.

Rombongan saya (Pak Faif, Pak Yanto, Pak Hertanto & Istri) melewatkan malam pertama di Malaysia jalan jalan ke Bukit Bintang naik MRT ke Titiwangsa (RM 1.2) dilanjut monorail (RM 1.2). Menikmati malam di pedestrian walk Bukit Bintang, melihat lihat musik jalanan dan dinner dengan Nasi Lemak..wow nikmat nian rasanya

Someday saya mesti ngajak anak istri jalan jalan ke sini...suasananya mirip mirip di pedestrian walk Swanston street Melbourne dan Nanning, Guan Xi...cuman dalam skala yang lebih kecil.

Kapan ya Jakarta punya pedestrian walk kayak gini ? mungkin setelah proyek Ciputra di sepanjang mall ambassador jadi kali ya ?

Day 1
Jadwal IBM Oasis tidaklah terlalu padat, hanya meeting dengan tiga seller Malaysia. Satu menawarkan batik kontemporer label Pink Jambu, yang kedua produsen underwear dg label Private Structure, yang terakhir fashion designer dengan label cukup terkenal di Malaysia.

Yang terakhir orangnya mirip mirip desainer kita Adji Notonegoro, dia paling lama bicara dengan kita dan terus lirak lirik Pak Yanto yang kumis dan jenggotnya kayak Freddy Mercury...saya jadi serem takut temen saya ditaksir orang dan gak boleh pulang ke Indonesia...walah walah walah...panitia MIHAS mesti tanggungjawab kalo ini terjadi...

Malamnya kembali kita berpusing pusing keliling KL. Kali ini dengan rombongan yang lebih besar ( Saya, Pak Hertanto & Istri, Pak Aris Permana & Istri, Mas Faif, Pak Yanto, Mas Yurisman dan Mas Asrullah). Tujuan perjalanan : Menara Petronas !

Dari Hotel Legend tempat kami menginap, naik MRT ke Masjid Jameek (RM 1.4), ganti jalur ke arah KLCC ( Kuala Lumpur Convention Centre) (RM 1.2).

Dari stasiun bawah tanah langsung connect ke Suria Mall. Kita jalan jalan dan menuju taman air mancur didepan menara kembar Petronas. Sebagai acara wajib member TDA adalah foto foto sebanyak mungkin untuk narsis di facebook. Saya lihat Direktur TDA Pak Hertanto dan Mas Faif paling semangat foto dengan berbagai gaya dan lokasi ha.ha.ha ( Upload foto terpisah dari laporan pandangan mata ini ).

Dinner di food court Suria Mall. Aneka pilihan makanan dengan budget RM 10 sudah kenyang dan enak. Beberapa penjaganya orang Surabaya. Pak Yanto sangat antusias ketemu saudara saudaranya dari Indonesia. Saya curiga beliau sedang ngompor ngomporin mereka untuk bikin TDA Malaysia dan segera membentuk Mastermind. Biar Pak Yanto ada alasan untuk sering sering ke Malaysia membina Mastermind disana...he..he..he..

Lesson learned 4 : Dimana ada komunitas Indonesia cukup banyak. Mari kita bentuk TDA dan buat mastermind...Pak Yanto siap coaching dimanapun Anda berada ...!

Kami sampai hotel kembali jam 11.00 dan saya harus segera nabung tidur untuk bangun lagi menyaksikan MU vs Arsenal jam 02.45 waktu KL... thanks God ! akhirnya MU lolos ke final... CR7 memang top markotob

Day 2
Hari kedua IBM kami dijadwalkan untuk bertemu dengan dua seller Malaysia. Satu adalah Zinni Group SDN BHD dan Kenko Real Organic SDN BHD. Ternyata keduanya tidak datang, kami komplain dan protes ke panitia Matrade. Tahu dari awal gak dateng kan kita bisa jalan jalan lagi mengexplore peluang bisnis di sini.

Menurut Mas Faif yang hari pertama sudah ketemu Zinni Group. Perusahaan ini adalah pemilik beberapa toko busana di Malaysia. Mereka sudah terbiasa mengambil produk produk garment berupa kerudung dan baju wanita dari Indonesia. Pemiliknya rutin sebulan sekali ke Tanah Abang tercinta. Jangan jangan dia lebih hafal lorong lorong tanah abang daripada kita.

Hari kedua juga di tandai hilangnya pemilik Kafana Distro dari stand IBM. Maklum dia tidak ada jadwal ketemu seller. Ternyata pagi pagi sudah meluncur ke Menara Petronas. Melampiaskan rasa penasaran semalam untuk naik ke tingkat paling atas.

Dilanjutkan ke Genting Higlands mencoba peruntungan, sapa tahu menang besar. Hebatnya saking semangatnya jalan jalan, semua dilakukan sendirian..ha..ha..ha.. Apa enaknya jalan jalan sendiri Pak ?

Saya menggunakan kesempatan yang ada untuk mengeksplore stand di Mihas 2009 sambil menanti jamuan dinner yang diselenggarakan panitia. Peserta pameran lebih dari 500 an booth dari 29 negara.

Saya lihat booth dari Indonesia di wakili oleh : Komunitas TDA, Garut Enterpreneur Club, Wardah Cosmetics, Dodol Mubarok dan Pemda Lampung. Hanya lima booth dari Indonesia. Negara Negara lain dengan booth yang cukup menarik adalah Palestina dengan booth yang menawarkan aneka keramik dan kurma. Booth Iran menawarkan saribuah halal yang dikemas seperti botol wine yang sangat cantik.

Booth Cina kebanyakan diwakili propinsi propinsi Cina selatan yang banyak penduduk muslimnya seperti Xin Jiang dll. Rata rata menawarkan aneka herbal, madu dan mesin pemotong hewan secara halal.

Dinner diselenggarakan dengan acara yang cukup meriah. Diiringi tari tarian traditional Malaysia. Namun saya tidak bisa membedakan dimana aspek traditionalnya wong semua tarian sama dengan tarian padang dan aceh. Apalagi diiringi musik … diding ba diding oiii..diding ba diding…ini mah di Indonesia juga banyak ya ? Ya memang bangsa serumpun ya, jadi harap maklum kalo banyak kesamaan.

Sehabis dinner jam 20.00 kami pulang ke Hotel. Saatnya bagi saya untuk istirahat. Tenggorokan sudah mulai sakit mau terserang flu. Sementara nanti malam juga masih harus menyaksikan laga Chelsea Vs Barca. Saya minum panadol flu dua sekaligus, biar cepet bisa tidur dan bangun malamnya.

Thanks God. Barca yang lolos. Kemenangan Sepakbola indah, cantik dan menyerang. Fighting spirit till the last drop. Persistensi sampai titik darah penghabisan. Sebuah pelajaran perjuangan tidak kenal lelah yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan.

Juga pelajaran musibah membawa berkah asal dimaknai dengan positif. Musibah di kartu merah nya Abidail di menit 70 an membuat Chelsea merasa diatas angin dan mulai berani menyerang. Otomatis pertahan mereka juga mulai terlihat lubang lubang kelemahan.

Sementara bagi Barca, walau dengan 10 pemain tetap tidak mengendorkan permainan mereka untuk terus istiqomah memainkan sepakbola menyerang. Perjuangan membawa hasil. Hanya dalam waktu kurang dari 2 menit pertandingan selesai dimasa injury time. Sebuah gol tercipta untuk Barca. Sejarah berhasil dibalikkan. Suka cita bergemuruh di Barcelona. Duka cita dan air mata banjir di London…

Sorry buat fans Chelsea. Walau tim anda sebenarnya berhak untuk dapat minimal dua tendangan penalty. Wasit memang kurang teliti……lho ini kok malah ngelantur bola ? he.he.he

Lesson learned 5 : Jangan pernah menyerah atas apapun yang sedang Anda perjuangkan dalam hidup. Berjuang sampai titik darah penghabisan. Persistensi seperti ini yang masih sulit saya dalami…

Day 3
Acara utama hari ketiga adalah opening ceremony by PM Malaysia Datuk M Najib Bin Tun Abdul Razak. Yang membuat saya salut adalah sang PM datang ke acara mengendarai mobil kenegaraan merk Proton Perdana. Bukan Mercedez S500 ataupun Volvo seperti yang biasa dipakai pejabat tinggi kita. Bukan pula Camry jatah para menteri di Indonesia.

Ini refleksi cinta produk dalam negeri. Satunya kata dan perbuatan. Saya jadi ingat razia sepatu yang sering dilakukan Pak Wapres terhadap pejabat pejabat lain yang ditemuinya. Its good start Pak ! coba jatah mobil diganti juga.

Lesson Learned 6 : Cintailah produk dalam negeri. Slogan ini harus dimulai dari para pemimpin. Jangan rakyat terus yang disuruh cinta produk dalam negeri sementara pemimpinnya asyik dengan barang barang mewah buatan luar negeri. Inget berita antrian panjang empat jam hanya untuk mendapatkan diskon 70% sepatu Crocs membuat saya meringis sedih dalam hati… what a mess country !

Jam 12.00 ceremony sudah selesai. Lihat lihat pameran juga sudah kami lakukan.

The next destination is exploring Genting Highlands, try our luck. Sebuah kota khusus dimana perjudian dilegalkan (ingat, dilegalkan ya ! bukan dihalalkan). Kota mini yang sangat cantik di atas pegunungan. Kira kira 800 m diatas permukaan laut dan diselimuti kabut tebal. Kami bertiga ( saya, pak yanto dan mas asrullah ) menuju ke sana dengan semangat 45.

Genting Highlands bisa dicapai dari beberapa stasiun kereta dan bis di KL. Yang sudah kami coba adalah dari stasiun KL Centre. Satu jam perjalanan ke pinggiran KL dengan tiket RM 3.3. Lumayan murah dan bis nya nyaman dengan AC dan reclining seat.

Tiba dikaki gunung kami naik Sky Way (kereta gantung) yang panjangnya 3.4 km dan ketinggian mendaki 800 m. Jauh lebih panjang dan lebih tinggi dari yang kita miliki di Ancol maupun Taman Safari. Dibawahnya terbentang hutan tropis muda dengan kerapatan sedang. Sementara di puncak diselimuti kabut samar samar terlihat pusat kota. Hotel hotel, aneka wahana permainan dan arena perjudian.

Tarif Sky Way cuman RM 5. Sangatlah murah dibanding kepuasan yang didapat. Waktu tempuh dari kaki gunung ke puncak sekitar 25 menit. Kami naik sekitar Jam 15.00 masih sore dan terang untuk bisa melihat semua pemandangan yang terbentang dibawah. Turun jam 19.30 malam hari. Semua sudah diselimuti kabut yang terlihat hanyalah kelap kelip menara Sky Way dan kabut tebal disekeliling kita. Dingin dengan suhu 15 – 19 derajat.

Saran saya kalau ke Genting Highlands, berangkatlah pagi hari dan pulang malam hari sehingga semua suasana pemandangan bisa kita nikmati. Atau kalo waktu Anda cukup menginaplah disana. Kehidupan berderak 24 jam penuh.

Empat jam kami habiskan untuk mengeksplore area Genting Highlands. Pada dasarnya area dibagi menjadi arena per hotelan, arena casino dan perjudian, arena wahana permainan dalam ruang dan area wahana permainan luar ruang.

Kami tidak mengeksplore lebih lanjut di arena casino. Karena tampang tampang seperti kami ini pasti sudah sangat di kenali oleh para penjaganya. Tampang orang yang bekalnya pasti tipis dan tidak akan menghabiskan uang untuk berjudi. Hanya lihat lihat sekilas di lobby. Hampir 90% pengunjung Casino yang kami temui adalah orang keturunan China, entah dari Negara manapun mereka berasal. Beberapa kami temui India dan Arab, lengkap pula dengan kafiyeh nya..he..he..he

Wahana permainan sangatlah lengkap seperti yang ada di Ancol. Dari mulai arung jeram mini, roller coaster, rumah salju, kereta gantung, rumah hantu dan lainnya. Hebatnya semua di sediakan di dua tempat. Dalam ruangan dan luar ruangan. Bisa anda bayangkan segede apa gedungnya untuk menampung semua wahana dalam ruangan itu ?.

Untuk urusan makanan anda tidak perlu khawatir. Makanan standard apapun yang bisa anda temukan di Jakarta bisa ditemukan disini. KFC, Pizza Hut, Kings Burger, McDonald dan Chinese food yang cukup banyak. Untuk kehalalan juga tidak ada masalah. Hampir semua restoran menempel sertifikat halal di kaca atau dindingnya. Kapan di Indonesia bisa begini ya ?

Tempat nongkrong juga banyak. Anda bisa pilih kedai kopi Starbucks, Coffee Bean atau kedai lokal lainnya. Sayang koneksi internet kurang bagus, sinyalnya lemah dan sering putus. Apa karena di ketinggian dan area terpencil ya ? seharusnya nggak dong.
Harga harga juga standar sama dengan di Plaza Senayan, Senayan City atau Citos. Jadi anda tidak perlu khawatir kehabisan bekal.

Souvenir dan aneka toko pakaian branded juga lengkap. Bagi anda yang gemar shopping atau habis menang judi, jangan khawatir tidak bisa menghabiskan uang anda..ha..ha..ha

Walaupun pada dasarnya Genting Higlands ini arena perjudian. Namun sangat cocok juga buat anak anak. Karena wahana permainan yang sangat lengkap, makanan yang mudah dan standard, dan hotel hotel yang banyak. Cocok buat family holiday. Mungkin yang ada di planning pembuatnya adalah manjakan anak anaknya biar orang tua nya betah berlama lama di meja judi..ha..ha..ha..

Kami nyampai hotel jam 11.00 setelah sebelumnya menikmati dinner yang terlambat disebuah kedai kecil dipinggir jalan. Menu utama nasi Biryani dan Teh Tarik. Ternyata menu pinggir jalan jauh lebih enak dari menu standard hotel dengan harga yang lebih ekonomis pula.

Demikian laporan ringkas perjalanan mengikuti Matrade 2009. Semoga berguna buat teman teman yang akan mengikuti Matrade 2010 atau yang sudah ikutan dan pengen ikut lagi.

Sesuai dengan semangat komunitas TDA. Berbisnis itu fun, maka nikmatilah perjalanan perjalanan bisnis Anda untuk tetap menjaga spirit dan passion bisnis kita.

Salam sukses penuh berkah ! Go Triple

The Legend Hotel
Jalam Putera 100, Kuala Lumpur
Jum’at, 8 Mei 2009