Showing posts with label politics. Show all posts
Showing posts with label politics. Show all posts

Wednesday, January 11, 2012

Demand Side Management...

Baru-baru ini salah seorang Menteri melontarkan gagasan yang cukup brilian, walaupun banyak juga yang menentang, agar rakyat Indonesia mengurangi konsumsi nasi, sehingga kita tiap tahun tidak dipusingkan tercapai tidaknya swasembada beras dan berapa defisit yang harus diimpor.

Dialah Gita Wiryawan, Kepala BKPM yang juga merangkap Menteri Perdagangan. Seorang Menteri yang masih muda, santun, ganteng, kaya, penuh terobosan dan terlihat cerdas !

He.he.he sorry Pak Menteri kalau saya bilang terlihat cerdas, bukan berarti saya mengatakan tidak cerdas beneran, track record Bapak di dunia korporasi sudah membuktikan itu dan sayapun sudah membuktikan dari beberapa kali percakapan dengan Bapak....

Pasca lengsernya Pak Harto, hampir setiap tahun Indonesia selalu mengimpor beras, entah dari vietnam, thailand atau malah India. Padahal tradisi bertani kita tidaklah kalah oleh mereka. Ini tentu menjadi hal yang sangat ironis mengingat kita juga merupakan salah satu produsen beras terbesar dunia

Hitung punya hitung, ternyata masyarakat kita juga merupakan konsumen beras paling tinggi di dunia. Data yang disodorkan; rata-rata orang Indonesia makan nasi 120 - 140 kg pertahun per orang, bandingkan dengan vietnam, malaysia atau thailand yang konsumsi rata-ratanya di level 60 – 70 kg pertahun per orang.

Padahal dari berbagai suku yang ada di Indonesia tidak semuanya makan nasi sebagai makanan utama mereka. Rakyat Papua lebih suka makan sagu, begitu juga ambon dan lainnya. Namun kampanye jaman orba bahwa kalau belum makan nasi dianggap belum sejahtera rupanya sangatlah berhasil sehingga semua orang menjadikan nasi sebagai makanan pokoknya.

Saya setuju peningkatan produksi beras sangatlah penting. Tapi sampai seberapa jauh hal ini bisa dilaksanakan ? mengingat luasan sawah semakin sempit dan tentunya kita tidak ingin menebangi hutan untuk dijadikan sawah

Ide mengelola kebutuhan beras dari sisi demand sangatlah menarik, juga bisa dilakukan mengingat sangat tingginya konsumsi nasi perkapita. Kalau saja setiap orang Indonesia mengurangi konsumsi beras 40 kg pertahun, maka akan ada penghematan sebesar 40 kg x 250 juta = 10 juta ton per tahun

Sementara kita mengimpor beras setiap tahun sekitar 2 – 5 juta ton. Dengan penghematan 10 juta ton pertahun  kita langsung menjadi negara surplus beras yang bisa kita ekspor. Mengganti 40 kg beras bisa kita lakukan dengan diversifikasi pangan; ubi, singkong, sagu, buah buahan dan susu yang lebih sehat

Selama ini kita selalu fokus pada sisi penyediaan atau supply, namun tidak pernah secara serius dan arif mengelola sisi konsumsi atau demand sehingga yang terjadi seperti 'rat race'...produksi bertambah namun konsumsi bertambah lebih cepat lagi.

Ini tidak hanya terjadi pada beras, pada BBM dan listrik juga begitu. Setiap tahun pemerintah dipusingkan subsidi BBM dan Listrik yang selalu bengkak, lebih besar dari yang dianggarkan APBN.

Tahun lalu saja subsidi BBM jebol melebihi angka Rp. 160 triliun dan subsidi Listrik diatas Rp. 50 triliun.

Sementara produksi minyak kita selalu dibawah target, tiga tahun terakhir produksi minyak kita tidak pernah mencapai 1 juta barrel per day tapi konsumsi BBM selalu naik. Hal ini terjadi karena penurunan produksi sumur-sumur tua dan lambatnya penemuan sumur baru karena investasi yang sedikit. Dan toh pada akhirnya minyak akan habis juga...

Tidak pernah ada kebijakan yang serius di implementasikan untuk membenahi sisi konsumsi. Apakah konsumsi BBM dan listrik sebanyak itu untuk kegiatan produktif ? memberi nilai tambah pada perekonomian ? atau hanyalah pemborosan dijalanan ?

Sudah bisa ditebak, jawabannya sebagian besar adalah pemborosan. Lihat saja kemacetan yang terjadi setiap hari di kota-kota besar di Indonesia. Paling parah di jakarta dan Bandung...setiap orang memakai mobil, satu keluarga bisa pakai tiga mobil pada saat bersamaan, isinya cuman sendirian atau dengan sopir..alangkah borosnya negara ini...

Kenapa Pemerintah tidak secara serius mengaturnya ? hanya kebijakan three in one saja apakah cukup ? kampanya penggunaan angkutan umum tanpa dibarengi pembenahan sektor transportasi publik hanyalah omong kosong belaka...

Sudah saatnya, dipaksa kalau perlu, disediakan transportasi publik massal yang memadai. Busway walaupun masih banyak masalah tapi sudah lumayan, kereta mesti dibenahi, monorail bagaimana kelanjutannya ?

Saya yakin, masyarakat kita pasti bisa dan mau mengikuti anjuran penggunaan transportasi publik jika disediakan secara memadai

Begitu juga pemakaian listrik. Budayakan pemakaian seperlunya saja. Matikan lampu bila siang hari, termasuk lampu-lampur penerangan di tempat umum. Masih banyak daerah-daerah diluar Jawa yang belum terlistriki dengan baik

Jadi ide pembenahan sisi permintaan dari Gita Wiryawan patut diapresiasi, tidak hanya sektor perberasan, tapi juga sektor energi.

Tuesday, January 10, 2012

Saat Darah Tumpah Dijalanan

Beberapa hari lalu saya nonton film lama di TV, sebuah film berjudul 'Inside Man' produksi tahun 2006 dan dibintangi Denzel Washington, Jodie Foster dan Clive Owen.

Film ini berkisah tentang perampokan bank yang dirancang sedemikian sempurna, memanfaatkan sandera sebagai jalan keluar, sehingga para perampok bisa melenggang dari bank tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Tidak setetespun darah tertumpah...

Yang sangat menarik motif dibalik perampokan tersebut bukanlah ingin mengambil uang bank untuk memperkaya diri. Bahkan tidak sedolar pun uang bank yang hilang. Perampok hanya membuka safe deposit box nomor 392, mengambil beberapa butir permata dan meninggalkan sebuah cincin.

Rupanya cincin itu menuntun pada kisah tragis sejarah pendirian bank tersebut dan pemiliknya.

Cincin tersebut adalah milik istri bangsawan dan pengusaha kaya Yahudi berkebangsaan Perancis yang menjadi korban Hitler saat perang berkecamuk. Sedangkan pemilik bank ternyata teman dari pengusaha tersebut namun juga merupakan rekanan Hitler dalam menampung aset-aset haram hasil jarahan

Dengan aset-aset hasil rampasan perang tersebut, dia mendirikan bank dan hidup terhormat sebagai warga kelas atas Amerika sampai para perampok ideologis tersebut membuka kedoknya

Yang masih terus membekas di benak saya adalah salah satu dialog dalam film tersebut. Saat Jodie Foster yang disewa oleh pemilik bank untuk melobi Denzel Washington sebagai kepala detektif yang menangani kasus perampokan ini.

Jodie Foster mengutip ucapakan terkenal dari Baron Rothschild, Bankir legendaris Inggris abad 18, "Bila darah mulai tertumpah dijalanan, itulah saat membeli properti !".

Ucapan ini, walaupun bernada sangat kejam dan kurang berperikemanusiaan,  merupakan nasehat investasi yang masih sangat relevan sampai saat ini, tiga abad sejak diucapkan oleh Baron Rothschild.

Di Indonesia, setidaknya dalam 15 tahun terakhir, kejadian ini benar-benar terjadi dan saya yakin banyak investor cerdas atau nekad yang memperoleh keuntungan dari situasi tersebut.

Pertama; saat terjadinya kerusuhan tahun 1998 di Jakarta yang diikuti krisis moneter yang cukup lama. Berapa banyak properti-properti di lokasi strategis, baik itu rumah, ruko, mall maupun perkantoran ditinggalkan pemiliknya ? yang kemudian dijual sebegitu murahnya oleh pemilik, bank penyedia kredit ataupun dilelang lewat BPPN.

Kalau saat itu anda sudah menjadi seorang investor properti, membeli dan menyediakan pendanaan untuk properti-properti tersebut tentu saat ini anda sudah menjadi raja properti karena harganya sudah naik berpuluh-puluh atau bahkan ratusan kali lipat.

Kedua; saat jajak pendapat di Timor-Timor dimenangkan kubu pro kemerdekaan yang kemudian diikuti kerusuhan yang cukup lama. Berapa banyak properti di lokasi-lokasi strategis yang ditinggalkan pemiliknya ? terlebih jika pemiliknya adalah pendukung kubu pro-integrasi atau warga Indonesia yang tinggal disana ?

Pasti semua dijual secepatnya, berapapun harganya asal laku. Apalagi saat itu belum tentu ada investor yang berpikiran untuk membeli. Banyak yang bahkan memiliki dengan menjarah. Saya jadi ingat seorang teman saya yang hampir gila karena meninggalkan aset-asetnya yang dikumpulkan dengan susah payah disana.

Tapi apakah saat itu ada investor nekad dan cerdas yang membeli dengan benar dan bermaksud juga menolong ? tentu ada !. Dan saat ini pasti investor tersebut  sudah kaya-raya karena harga propertinya naik berlipat-lipat.

Kejadian ketiga; saat kerusuhan SARA melanda Kalimantan Tengah antara suku setempat dengan pendatang dari Madura. Ribuan korban jiwa melayang sia-sia. Jangankan memikirkan harta ataupun properti, menyelamatkan nyawa keluarga saja susah.

Namun lihatlah sekarang ! perdamaian sudah berjalan, roda perekonomian kembali pulih, pendatangpun sudah menempati wilayah-wilayah milik mereka dan harga properti di lokasi-lokasi strategis pasti sudah naik berpuluh-puluh kali lipat.

Maksud tulisan ini bukan saya menganjurkan kita untuk senang dengan penderitaan orang lain, apalagi ikut-ikutan menyulut kerusuhan. Namun sebagai perspektif dari kacamata seorang investor properti, mencermati naik turunnya pasar beserta faktor-faktor dominan yang mempengaruhinya

Juga membeli properti dengan harga murah saat orang lain tidak mau membeli dan pemilik benar-benar sangat membutuhkan merupakan tindakan yang juga bisa dikategorikan menolong orang dari kesulitan

Sejarah akan selalu berulang, kapan dan dimananya saja yang kadang berbeda. Tinggal kita pintar-pintar untuk mencermati pasar....kapan saat membeli, mengelola, menyewakan dan kapan saat menjual

Thursday, December 29, 2011

Dahlan Iskan Lagi...

Beberapa hari terakhir ini media-media cetak dan online menghangatkan suhu politik dalam negeri dengan mengusung topik kandidat Presiden dan Wakil Presiden yang paling layak, hot dan seksi untuk pilpres 2014.

Memang masih dua tahun lagi pilpres akan berlangsung, namun aroma pertarungan antar pendukung kandidat sudah mulai memanas dan pers selalu bisa membuat tambah panas...

Salah satu kandidat yang banyak dijagokan adalah Dahlan Iskan, pemilik group Jawa Pos yang dianggap sukses menakhodai PLN dalam satu setengah tahun dan sekarang mengemban amanah sebagai Menteri BUMN.

Kenapa Dahlan Iskan ? bukankah dia bukan pengurus partai politik ? bahkan juga tidak pernah terdengar sebagai simpatisan partai politik manapun ? memang dalam pilpres 2009 lalu dia termasuk salah satu tim kampanye SBY-Boediono, tapi setelah ini tidak pernah lagi bicara politik...

Saya beranggapan munculnya nama Dahlan Iskan adalah refleksi kebosanan kelas menengah terhadap kiprah dan tingkah laku politisi di DPR, bahkan sampai taraf muak...

Seringnya absen dalam pembahasa rancangan Undang Undang, gaya hidup mewah, makelar anggaran, terjerat korupsi dan hanya mementingkan kepentingan partai hampir dalam setiap pengambilan keputusan publik. Rakyat sebagai pihak yang diwakili selalu disisihkan, hanya disapa saat hari pencoblosan saja...

Seperti pernah saya tulis di blog ini pada November lalu (Pak Dahlan dan sepatu kets nya...), hanya sebulan sejak dilantik menjadi Menteri BUMN, Dahlan Iskan banyak membuat terobosan kecil yang menarik simpati publik.

Mengurangi jadwal rapat dan laporan yang tidak produktif di lingkungan BUMN, melarang intervensi politisi di lingkungan BUMN, memberi teladan hidup secukupnya  dan tidak berlebihan, serta memberi ruang yang cukup bagi Direksi BUMN untuk mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan korporasi daripada karena tekanan politik...

Minggu lalu Dahlan Iskan juga membuat kehebohan dengan menghadiri sidang kabinet di Istana Bogor menggunakan kereta listrik dari Jakarta dan dilanjut naik ojek ke Istana. Mungkin pertama kali dalam sejarah orde baru ada Menteri naik kereta listrik dan ojek untuk menghadiri sidang kabinet.

Ada yang berpendapat tindakan tersebut hanyalah cari sensasi dan popularitas.  Namun saya melihat hal ini adalah sikap tulus untuk memberi teladan pada jajaran dibawahnya. Sekaligus melakukan inspeksi atas pelayanan PT Kereta Api pada konsumennya yang kebanyakan masyarakat bawah karena hal seperti ini sangat sering dilakukan oleh Dahlan Iskan saat di PLN.

Dua hari lalu saya membeli buku "Dua Tangis dan Ribuan Tawa" karya Dahlan Iskan, buku yang merupakan kumpulan CEO Note selama beliau memegang amanah menjadi Dirut PLN. Belum semuanya saya baca, baru jalan setengahnya, tapi ada beberapa teladan kepemimpinan yang menunjukan beliau cocok dan memenuhi syarat sebagai seorang Presiden sekalipun.

Beliau seorang yang sangat decisive dalam mengambil keputusan, sederhana tanpa mau direpotkan birokrasi dan seremonial, komitmen penuh pada setiap keputusan yang diambil, walk the talk, lembut dan santun pada semua karyawan sekaligus keras dan tegas pada para pelanggar.

Jalan pengabdian masih panjang Pak Dahlan. Kerja keras, kesederhaan dan kehadiran Bapak merupakan oase bagi bangsa Indonesia, kami siap ikut berjuang untuk menjadikan Indonesia tempat yang lebih baik, adil, manusiawi, bermartabat dan sejahtera.

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Wednesday, August 06, 2008

Karet Rakyat dan Bendera Partai


Bulan Juli lalu merupakan bulan yang sangat sibuk buat saya dan merupakan rekor tersendiri dalam sejarah perjalanan dinas sepanjang karir saya. Bagi Anda yang ber profesi sebagai sales mungkin ini merupakan hal biasa. Tapi bagi saya ini tetep merupakan sebuah rekor.

Dalam setengah bulan Juli lalu saya memecahkan rekor mengunjungi enam propinsi untuk lima perjalanan dinas dan satu perjalanan wisata keluarga.

Perjalanan dimulai dari Bali tanggal 10 – 12 July. Perjalanan ke Bali juga merupakan kunjungan pertama saya ke Bali dan menginap. Walaupun sudah sering ke transit atau one day visit, belum pernah sekalipun saya ke menginap dan menghabiskan beberapa hari di Bali.

Bermalam dan kemudian breakfast di Nusa Dua. Lunch di seminyak sambil melihat lihat turis lalu lalang naik sepeda motor dan dinner yang sangat indah di pantai Jimbaran dengan menu udang galah bakar, ikan bakar dan cumi bakar yang sangat nikmat. Apalagi sambil menikmati suara deburan ombak dan angin pantai yang sejuk. Sambil hati selalu berdo’a semoga tidak ada bom meledak seperti kejadian beberapa tahun berselang.....

Minggu ketiga July saya kembali mengunjungi Lampung menengok petani petani singkong binaan di sana. Seperti biasa masalah klasik selalu mengemuka; pupuk langka, infrastruktur jelek kalau hujan dan makin mahalnya tenaga buruh. Namun kali ini ada masalah lain yang lebih gawat; yaitu makin seringnya terjadi pencurian singkong. Hal ini terjadi seiring naiknya harga singkong sehingga makin ekonomis untuk di curi.....

Hal lain yang membuat saya sedikit gundah adalah harga singkong tetap tinggi walaupun harga tepung sudah turun. Fenomena apa ini ? biasanya harga singkong adalah derivatif harga tepung. Kalau tepung naik, maka singkong naik. Begitu juga kalo harga tepung turun, harga singkong mengikutinya. Apa ini terkait konversi singkong dari food ke fuel ? padahal belum ada pabrik bio fuel di Lampung yang sudah beroperasi komersil....... rumors effect kah.............? jadi kayak harga saham saja !

Weekend Minggu ketiga saya sempatkan bersama keluarga mengunjungi dan bermalam di Taman Safari Indonesia. Masih tetap dingin seperti dulu kalau malam. Namun kalau saya perhatikan koleksi harimau dan singanya jauh berkurang dibanding beberapa tahun lalu. ........

Minggu keempat saya mengunjungi dua propinsi di Kalimantan. Mendarat di Palangkaraya, Kalimantan Tengah dan lewat jalan darat kurang lebih lima jam menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ini juga perjalanan darat pertama saya di Kalimantan. Biasanya saya hanya mengunjungi satu lokasi dan kembali ke Jakarta.

Berbicara Kalimantan tentu tidak bisa lepas dari Sawit dan Batu Bara. Semua investor lokal dan asing sejak lima tahun lalu menyerbu Kalimantan mencari lahan lahan baru untuk sawit.

Seiring kenaikan harga batu bara, tambang tambang tradisional yang dulu kurang ekonomis pun kini moncer diburu investor asing ber modal cekak. Terutama investor China dan Korea....di beberapa hotel tempat saya menginap, hampir selalu saya temui orang China atau Korea terlibat pembicaraan serius dengan broker broker lokal, menggelar peta peta ijin lokasi atau ijin tambang.....denyut ekonomi berdetak kencang disini......

Lima hari di Kalimantan dan menginap di empat hotel yang berbeda, perjalanan darat yang melelahkan karena jeleknya infrastruktur serta kemacetan di areal areal pertambangan karena truk truk batu bara memang membuat badan capek...saya terserang flu dua hari terakhir di sana...

Minggu terakhir Juli saya masih menyempatkan diri mengunjungi Jambi, sebuah propinsi di pulau Sumatera yang Wagub nya sedang bermasalah kesambet kasus dana BLBI.....di daerah ini karet dan sawit tetap merajai sebagai komoditas utama......

Dari semua perjalanan itu..ada dua hal utama yang sangat menarik yang saya amati.

Pertama adalah maraknya perkebunan karet rakyat dimana mana...kalimantan tengah, kalimantan selatan, lampung dan jambi. Mereka membuka lahan lahan tidur eks HPH, menanam karet skala kecil 5 – 100 Ha....bahkan sampai ke desa desa terpencil di pedalaman Kalimantan tengah pun ada...... 5 – 10 tahun lagi, pasti booming karet di Indonesia dan mengalahkan Thailand sebagai produsen karet nomor satu dunia.

Tidaklah heran kalau Goldman Sach memprediksi Indonesia akan menjadi salah satu kekuatan utama ekonomi dunia tahun 2025 dengan dua produk unggulan karet dan sawit.

Hal kedua adalah maraknya bendera partai partai, bahkan sampai ke pelosok pelosok desa terpencil. Baik partai lama maupun partai baru sama sama agresif mulai berkampanye. Menyebar bendera dan papan papan iklan sampai pelosok desa. Poster poster Wiranto dengan Hanura nya berkibar dimana mana... Memang untuk ukuran partai baru Hanura lah yang paling banyak bendera dan poster nya..... Maklum saja modalnya memang kuat, entah darimana uangnya....

Ya, saya sangat bersykur dengan dua hal ini....artinya imbas ekonomi kenaikan harga komoditi sudah sampai pelosok pelosok desa, walaupun mungkin dananya berasal dari investor kota, minimal ekonomi pedesaan mulai menggeliat.

Yang kedua; demokrasi sebagai berkah reformasi sepuluh tahun lalu juga sudah merambah pelosok desa...walaupun baru sebatas jargon dan poster....ini juga patut di syukuri....

Sebagai sebuah bangsa yang besar, tentu tidak semudah membalik telapak tangan membudayakan demokrasi di Indonesia.......masih dibutuhkan kerja keras membangun peradaban.........

Salam sukses !

Monday, May 19, 2008

100 Tahun Kebangkitan Nasional



Dear seluruh pembaca setia blog Visimandiri.

Besok, hari Selasa tanggal 20 Mei 2008 kita bangsa Indonesia memperingati 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional. Warisan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang telah diperjuangkan oleh para pendiri Bangsa ini, marilah kita jaga, kita rawat dan kita perjuangkan menjadi sebuah Negara yang kuat dan menyejahterakan Rakyatnya.

Marilah kita bernyanyi bersama, lagu kebangsaan kita :

Indonesia Raya

Indonesia tanah airku, Tanah tumpah darahku.
Disanalah aku berdiri, Jadi pandu ibuku.
Indonesia kebangsaanku, Bangsa dan Tanah Airku.
Marilah kita berseru "Indonesia bersatu."

Hiduplah tanahku, Hiduplah negriku,
Bangsaku, Rakyatku, semuanya.
Bangunlah jiwanya, Bangunlah badannya.
Untuk Indonesia Raya.

Refrein:
Indonesia Raya,
Merdeka, Merdeka
Tanahku, negriku yang kucinta.

Indonesia Raya,
Merdeka, Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya.

Indonesia Raya,
Merdeka, Merdeka
Tanahku, negriku yang kucinta.

Indonesia Raya,
Merdeka, Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya.

Bait 2:
Indonesia! Tanah yang mulia, Tanah kita yang kaya.
Di sanalah aku berada Untuk slama-lamanya.
Indonesia, Tanah pusaka, Pusaka Kita semuanya.
Marilah kita mendoa, "Indonesia bahagia!"

Suburlah Tanahnya, Suburlah jiwanya,
Bangsanya, Rakyatnya semuanya.
Sadarlah hatinya, Sadarlah budinya.
Untuk Indonesia Raya.

Bait 3:
Indonesia! Tanah yang suci, Tanah kita yang sakti.
Disanalah aku berdiri menjaga ibu sejati.
Indonesia! Tanah berseri, Tanah yang aku sayangi.
Marilah kita berjanji: "Indonesia abadi!"

Slamatlah Rakyatnya, Slamatlah putranya,
Pulaunya, lautnya semuanya.
Majulah Negrinya, Majulah Pandunya.
Untuk Indonesia Raya.

NB. Kayaknya lagu yang saya kutip versi Indonesia Raya yang original dan panjang itu ya ? entahlah aku ambilnya dari www.wikipedia.org sih. Yang penting semangat kebangkitannya kan.

Wednesday, April 02, 2008

Pak Anton Sering-Sering Ke Lampung

Sepanjang tahun 2007 yang lalu, saya amati sekurang-kurangnya 5 – 6 kali, Menteri Pertanian kita, Bapak Anton Apriyantono berkunjung ke Lampung, sebuah propinsi dengan hasil bumi yang berlimpah dan cukup dekat dengan Jakarta sebagai pusat segala konsumsi.

Pertama yang saya ingat persis adalah akhir February 2007 saat beliau menyertai kunjungan Presiden RI ke Sugar Group untuk meninjau dan meresmikan proyek ethanol berbahan tetes tebu. Sugar Group adalah perkebunan kebu terbesar di wilayah Lampung, dan juga di Indonesia dengan lebih dari 70,000 Ha lahan perkebunan tebu. Wilayahnya melintasi dua kabupaten di Lampung, yaitu; Lampung Tengah dan Tulang Bawang. Group ini juga merupakan produsen gula terbesar di Indonesia, dengan tiga pabrik-nya di pusat area perkebunan. Kalau anda doyan yang manis-manis, pasti gula produksi perusahaan ini dengan gampang anda temui di supermarket di seluruh wilayah Indonesia. Herannya..? dengan perkebunan yang begitu luas dan pabrik-pabrik gula yang bertebaran di seluruh pelosok Indonesia…negara kita ini masih tetap jadi pengimpor gula setiap tahunnya…? Solusi-nya kira kira apa ya Pak Anton agar ketergantungan kita terhadap impor gula bisa diatasi……..?

Kunjungan kedua adalah saat sosialisasi benih padi unggulan dan panen padi bersama oleh PT SAS, sebuah sayap agroindustri milik Artha Graha Group. Benih padi ini masih diimpor oleh PT SAS dari China dan di klaim mampu memberikan hasil produksi yang lebih baik, tahan hama dan waktu panen yang lebih cepat sehingga bisa menaikkan produktivitas pertanian kita dan meningkatkan pendapatan petani. Pertanyaannya, kenapa benih padi saja kita masih impor ? bukankah sejak nenek moyang kita hampir semua penduduk Indonesia makan nasi…? Gimana peran peneliti-peneliti pertanian kita dari Universitas, Dept. Pertanian & Lainya dalam riset benih padi unggulan….? Apa mereka semua sudah alih profesi……..? Tapi saya positif thinking sajalah…masih lebih baik impor benih padi daripada impor beras…ya, karena sekali lagi, Negara kita juga sudah hampir sepuluh tahun jadi pengimpor beras…..! begitu impor beras dilakukan, harga beras langsung jatuh…petani kita pada rugi semua..!! siapa yang untung..? tentu pedagang dan rantai birokrasi yang menggerogoti setiap lini proses impor beras. Dari mulai lampu hijau dari parlemen, proses tender di Bulog, makelar-makelar dengan trader luar negeri, proses shipping dan bongkar di pelabuhan, sampai distribusi ke level paling bawah, konsumen langsung seperti saya ini.

Tidak heran kalau proses impor beras ini selalu jadi lahan rebutan, sudah banyak pejabat Bulog yang ditahan gara-gara proses ini, masih hangat kan nasib hampir semua Kepala Bulog kita………? Padahal dulu kita selalu swasembada beras…! Ayo Pak Anton, saya semangati agar kita bisa surplus beras lagi, kita perbaiki infrastruktur irigasi di desa-desa, kembalikan lahan-lahan pertanian yang berubah fungsi, perbaiki distribusi pupuk dan tangkap semua tikus-tikus yang terlibat didalamnya….menjadi seorang pemimpin, baik saja tidak cukup, tapi juga harus berani…!!

Kunjungan ketiga dan seterusnya saya tidak ingat persis, hanya baca di koran-koran daerah. Salah satunya adalah saat festival hari pangan sedunia yang kebetulan di selenggarakan oleh Provinsi Lampung.

Sangat lah penting seorang pejabat sering-sering turun ke bawah..untuk melihat langsung apa yang terjadi di lapangan, juga penting menyusun action plan untuk mengatasi masalah tersebut setelah kunjungan, namun yang lebih penting lagi adalah eksekusi dan monitoring atas semua rencana tersebut. Saat ini harga komoditi pertanian lagi tinggi-tingginya dan trend akan terus membaik. Pak Anton ..! kita tunggu gebrakannya..! tahun depan sudah pemilu lagi……….jangan sampai bapak dikenang sebagai menteri yang biasa-biasa saja…. Saya yakin Bapak bisa…….!!