Wednesday, May 21, 2008

Cash Flow is King


Profit is important but cash flow is KING ! begitu yang sering diteriakkan oleh rekan bisnis saya. Entah mengutip dari mana kata kata ini. Namun semakin lama saya renungkan, filosofi ini semakin menemukan kebenarannya.

Arus kas (cash flow) ibarat sebuah darah dalam manajemen perusahaan. Tanpa arus kas yang sehat kita lemes, penyakitan atau bahkan langsung stroke dan mati kalau darah ke otak tersumbat.

Saya masih suka salah dalam menentukan proyek proyek mana yang mau diambil dan mana yang harus ditinggalkan. Kadang saya hanya berpedoman pada Contribution Margin. Pendapatan atau penjualan dikurangi semua variable cost. Bila Contribution Margin diatas 10% maka proyek saya ambil, bila tidak maka tinggalkan saja.

Pendekatan ini cukup bagus dan boleh boleh saja dilakukan sepanjang kita punya banyak cash nganggur. Namun buat pengusaha pegel (pengusaha golongan ekonomi lemah), pendekatan Contribution Margin bisa menimbulkan jebakan cash flow. Bisa saja CM nya tinggi tapi ternyata cash flow nya seret.

Kalau ini yang terjadi profit yang sudah didepan mata kegerus oleh biaya modal. Apalagi kalo modal dari bank berbunga tinggi. Banyak pegel nekat yang pake kartu kredit, makin pusinglah kita kalo ini yang terjadi.

Untuk menghindari jebakan cash flow, beberapa langkah bisa kita lakukan :

Kontrak penjualan atau surat perintah kerja yang jelas. Cantumkan berapa lama credit term kita berikan dan sanksi apabila pembayaran mundur. Mencantumkan credit term dan sanksi membuat customer berpikir ulang untuk menunda pembayaran. Kalau mundur, kitapun harus berani mengeksekusi nya.

Riset kecil. Lakukan riset kecil terhadap semua customer atau klien baru kita. Nilai kondisi kesehatan arus kas nya. Riset bisa dilakukan melalui rekanan bisnis mereka atau dari karyawan perusahaan itu. Banyak data bisa kita gali disini. Klien lamapun harus kita monitor kesehatannya.

Kalkulasi project. Lakukan kalkulasi untuk setiap projek atau pemenuhan order dengan credit term. Pastikan kita punya safety cash seandainya klien menunda pembayaran satu atau dua minggu. Atau bahkan bulanan.

Mintalah Pembayaran Cash atau DP. Credit term banyak diberikan pada penjualan atau kontrak non retail. Walaupun begitu kita bisa saja minta cash atau DP untuk memperkecil resiko jebakan cash flow.

Saya banyak mengambil pelajaran dari rekan dalam pengambilan keputusan proyek. Dia mendefiniskan resiko setiap proyek dengan sangat sederhana dan akurat :

Mendapatkan proyek -> Peluang
Menyelesaikan proyek -> Menciptakan resiko
Meneriman pembayaran on time -> Baru bener bener profit

Semoga bermanfaat

No comments: