Friday, May 09, 2008

Mengajari Anak Berbisnis

Robert Kiyoshaki berbisnis sejak usia 9 tahun, saat itu dia belajar dari ayah kayanya. Demikian juga Warren Buffet, konon ia sudah membeli saham sejak usia 11 tahun, dan sekarang masih merasa menyesal karena merasa terlambat memulai.

Saya sendiri mulai berbisnis sejak kira kira usia 10 tahun, saat itu saya kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah di desa kami. Bisnis saya ada dua; pertama, adalah jual besi loakan ke lapak besi tua dan kedua, jual Koran bekas ke toko toko di kampong pecinan di pasar Kedungwuni.

Binis besi loakan sangat mudah buat saya, karena ayah saya punya armada truk angkutan, sehingga spare parts bekasnya sering saya kumpulin dan di jual kiloan ke lapak. Bisnis koran bekas rada sulit, karena saya mesti bersaing dengan kakak kakak saya yang juga seneng ngumpulin koran bekas untuk dijual. Saat itu kami sudah langganan Kompas, Mingguan Bola dan Majalah Tempo. Kadang kadang ayah saya juga beli koran Suara Merdeka.

Disamping ber bisnis, saya juga menjalani profesi TDB sejak Madrasah, terutama di bulan puasa, karena Madrasah kami selalu libur satu bulan penuh dan order garmen lagi puncak puncaknya. Saya jadi tukang pasang kancing, lumayan dapatnya Rp. 150 – 200 per kodi (bayangin berapa kancing tuh yang harus dipasang ?, semua masih masih manual pula !)

Motivasi saya bebisnis sejak usia dini hanya dua, pertama; agar punya uang untuk sewa komik, terutama cersil Kho Ping Ho dan kedua, agar bisa nonton film silat mandarin bila suatu waktu di putar di bioskop. Saat itu ada dua bioskop di desa kami, Bioskop Cakra dan Semar (sekarang keduanya sudah gulung tikar). Tarif untuk sekali nonton masih berkisar Rp. 100 – 200, tergantung filmnya. Film India dan silat mandarin biasanya lebih murah dari film barat model serial 007.

Sekarang saya juga mengajari anak saya berbisnis, Iqbal yang berusia 9 tahun dan Hafiz adiknya yang 6 tahun. Motivasi mereka berbisnis juga sama dengan saya dahulu. Ngumpulin uang untuk beli mainan atau komik Naruto. Cuman tentu saja mereka tidak jualan besi bekas atau Koran bekas, bisa bisa bersaing dengan pemulung kalau mereka melakukan itu.

Saya mengajarinya berbisnis sesuai dengan kompetensi yang mereka miliki saat ini. Iqbal sangat berbakat menulis dan Hafiz sangat senang menggambar. Gambarnya makin hari makin bagus dan penuh warna.

Iqbal disamping berbakat menulis, juga memiliki kesadaran keuangan yang sangat tinggi. Ketika saya belikan majalah XY Kids yang memuat profil para pembalap F1, dengan serta merta ia ingin menjadi pembalap F1 karena gajinya sangat besar, mencapai miliaran seminggu dan ratusan miliar setahun. Ia sangat menggebu gebu untuk menjadi pembalap.

Bulan berikutnya saya belikan majalah yang memuat profil Bernie Ecclestone, Presiden & CEO Formula One Management yang sekaligus pemilik saham dari induk perusahaan FOM, dan begitu tahu Mr. Eclestone ini dapat uangnya jauh lebih besar dari pembalap. Segera saja ia banting setir keinginan untuk menjadi pemilik F1 saja. Karena jauh lebih kaya dengan resiko lebih sedikit.

Tidak beberapa lama kemudian saya belikan majalah yang memuat profil J.K. Rowling. Betapa kayanya dia. Setiap seri Harry Potter bisa menghasilkan ratusan juta dollar. Passive income pula. Belum lisensi dari cindera mata, film dan semua barang yang memuat Harry Potter. Makin hari selalu makin kaya. Iqbal pun langsung banting setir menjadi seorang penulis. Kebetulan dia juga berbakat menulis. Salah satu hasil karyanya bisa dilihat di tulisan Maestro Cilik Kami.

Mulai saat itu pula, dia mulai menuliskan pengalaman pengalaman dia. Baik pengalaman yang di peroleh di sekolahnya maupun pengalaman wisata bersama keluarga. Saya mengajarinya berbisnis dengan menjadi off taker / pembeli siaga untuk semua karya kedua anak kami. Baik berupa tulisan maupun gambar.

Sebelum melakukan pembelian saya selalu menawar, memberi penilaian dan memberi masukan perbaikan perbaikan apa yang masih perlu dilakukan. Kemudian kami melakukan negosiasi harga. Untuk sebuah tulisan bagus 5 – 10 halaman, saya menghargainya Rp 25 ribu – 50 ribu. Untuk sebuah gambar yang dibuat Hafiz, harganya lebih murah, antara Rp. 3,000 – 10,000. Saking semangatnya dan kalau lagi ngebet pengen beli mainan. Sehari disaat libur, Hafiz bisa membuat 5 buah gambar cantik penuh warna.

Bila ada momen momen special di sekolah maupun acara keluarga. Saya kadang meng inden hasil tulisan Iqbal. Kita membuat sebuah kontrak jual beli atas tulisan yang belum jadi. Dalam kontrak kami menyebutkan jumlah halaman, tanggal penyerahan, harga, dan kami melibatkan Hafiz yang kami posisikan sebagai agen / broker penulis-nya.

Berikut sebuah contoh kontrak inden tulisan yang pernah kami buat :

Kontrak

Pada hari ini, Sabtu : 12 April 2008. Telah melakukan kesepakatan perjanjian jual beli novel :

Topik : Perjalanan Iqbal Ke Kebun Raya Bogor
Halaman : Minimal 4 halaman
Waktu : Paling telah diserahkan hari Minggu Sore, 13 April 2008
Harga : Penulis dan Penerbit ( Mr. Iqbal ) Rp. 35,000
Perantara/Pedagang ( Mr. Hafiz ) Rp. 8,000
Pembeli : Papah

Demikian kesepakatan ini dibuat untuk dilaksanakan

Penulis & Penerbit Pedangan/Perantara Pembeli

Ttd Ttd Ttd
Iqbal Hakim Hafiz Papah

Kami melengkapi kontrak tersebut dengan tandatangan kami bertiga.

Hasil tulisan Iqbal yang berjudul Perjalanan Iqbal Ke Kebun Raya Bogor bener bener diserahkan tanggal 13 April 2008 sore. Hanya saya belum sempet menuliskannya diblog ini.

Bagaimana dengan Anda..? Bisnis model seperti apa yang akan Anda ajarkan ke anak anak Anda.

4 comments:

Tri Agro Sukses said...

Asww, wah boleh tuh pak cara ngajadi anak bisnis, bisa jadi masukan saya utk mendidik anak biar melek financial. Kita bisa share pengalaman dlm mendidik anak, saya mengharuskan anak utk menyisihkan uang jajanya setiap hari, pokoknya tidak boleh habis, kita sepakati berapa minimal yang harus disisihkan setiap hari, dan kalo hari itu uang jajannya habis, maka besoknya uang jajannya dikurangi sebesar nilai minimal tadi. Nanti uang yg terkumpul harus mereka rencanakan usaha mereka sendiri, sekarang ini mereka lagi punya rencana utk buka persewaan buku2 komik kpd teman2 sekolah mereka. Utk menambah sumber pengahasilan mereka, kita membuat kesepakatan apabila nilai mereka 100, dapat bonus sesuai kesepakan. Oh ya anak saya 3 orang, pertama umur 13 th, 11 dan 7 tahun.

Unknown said...

Pak Andri,

Inspiratif sekali. Memang kita sebagai orang tua sudah seharusnya bisa mengenalkan kepada anak-anak kita tentang dunia entreprenuer, dan kita sudah harus mengarahkannya untuk tidak mengandalkan untuk jadi karyawan.

Anak saya yang nomor 2 perempuan, punya bakat bisnis yang sangat kental. Dulu sewaktu masih tinggal di Karawaci, dia punya bisnis sendiri; asesories yang dijual kepada teman-teman sekolah dan teman bermain. Bahkan pada hari-hari libur, dia membuat kertas lipat (origami) dan dijual kepada teman-temannya seharga Rp.50 - Rp. 100.

Saya sudah punya rencana untuk meneruskan bakat ini agar bisa berkembang dengan baik.

Ardiansyah Abdullah said...

Terimakasih atas sharingnya Pak. Memang anak anak harus kita biasakan melek financial Pak. Saya juga berusaha menanamkan ke anak anak, bahwa apapun keahlian yang diberikan Tuhan ke kita, pasti bermanfaat untuk menunjang sukses dikemudian hari. Semoga anak anak kita sukses semua ya Pak. Jauh lebih sukses dari orang tuanya. Wassalam

Hadi Prayitno said...

Inspiratif banget Pak,anak saya baru 2 tahun InsyaAllah nanti saya coba terpakan yang Pak Andri Lakukan. thans ya pak sharenya...